0
Friday 5 December 2025 - 04:11
Palestina vs Zionis Israel:

Hamas Desak Aksi Global Menyusul Laporan Warga Palestina Dikubur di Kuburan Tak Bertanda

Story Code : 1251313
People gather near bodies lined up after they were unearthed from a mass grave found in the Nasser Medical Complex in the southern Gaza Strip
People gather near bodies lined up after they were unearthed from a mass grave found in the Nasser Medical Complex in the southern Gaza Strip
Kelompok yang berbasis di Gaza tersebut, dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan khususnya Mahkamah Internasional (ICJ) untuk menindaklanjuti kejahatan keji tersebut, memasukkannya ke dalam laporan yang mendokumentasikan kejahatan rezim Tel Aviv, dan membawa para pemimpin Zionis Israel ke pengadilan atas kejahatan mereka terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
 
Hamas mencatat bahwa investigasi CNN, yang berjudul "Mayat-mayat yang Dibuldoser dan Kuburan Tak Bertanda," memberikan bukti terdokumentasi baru tentang salah satu aspek genosida sistematis Israel terhadap warga Palestina, dan memberikan bukti tambahan tentang "upaya yang disengaja untuk mengubah bantuan menjadi perangkap kematian massal."
 
Gerakan perlawanan tersebut menyatakan bahwa kejahatan "mengerikan" tersebut merupakan bagian dari kejahatan perang dan serangan sistematis yang dilakukan Zionis Israel di hadapan masyarakat internasional, dengan mengabaikan sepenuhnya hukum internasional dan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang paling mendasar.
 
Hamas menekankan bahwa kekejaman ini terjadi berkat kolusi antara pemerintah AS dan beberapa pemerintah Barat, di samping upaya untuk menghalangi penuntutan internasional terhadap penjahat perang Israel, khususnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
 
Lebih dari 2.000 warga Palestina dilaporkan tewas pada tahun 2025 saat menunggu bantuan dari Yayasan Kemanusiaan Gaza, yang dikelola bersama oleh AS dan Zionis Israel.
 
Laporan CNN, yang berdasarkan analisis video, citra satelit, dan keterangan dari para saksi serta mantan tentara, menyoroti bahwa Israel terlibat dalam pelanggaran sistematis hukum humaniter internasional di Gaza.
 
Investigasi tersebut mengungkap penderitaan warga Palestina yang hilang saat mencoba mencapai konvoi bantuan kemanusiaan di Gaza utara. Para penyintas dan keluarga korban hilang menceritakan momen-momen kacau yang diwarnai tembakan membabi buta dari pasukan Zionis Israel, sementara warga sipil yang putus asa berjuang mengamankan makanan.
 
Pada bulan Juni, Ammar Wadi, seorang pemuda Palestina, meninggalkan rumahnya untuk mencari tepung dan tak pernah kembali. Beberapa minggu kemudian, sebuah pesan terakhir untuk ibunya ditemukan di ponselnya, yang berbunyi, "Maafkan saya jika terjadi sesuatu." Keberadaannya masih belum diketahui, dan jenazahnya belum ditemukan.
 
Rekaman video, yang terelokasi di area Zikim, memperlihatkan beberapa jenazah yang membusuk, beberapa terkubur sebagian, tergeletak di dekat truk bantuan yang terbalik. Anjing-anjing terlihat mengais-ngais sisa-sisa jenazah, sementara citra satelit menunjukkan aktivitas buldoser di area tersebut, baik selama maupun setelah insiden.
 
Tim pertahanan sipil melaporkan bahwa banyak jenazah tidak dapat ditemukan karena serangan Zionis Israel yang terus-menerus.
 
Seorang mantan tentara Israel mengatakan kepada CNN bahwa unitnya telah menguburkan sembilan warga Palestina tak bersenjata tanpa menandai kuburan mereka atau mendokumentasikan identitas mereka melalui foto. Ia menjelaskan bagaimana bau mayat yang membusuk menjadi tak tertahankan saat anjing-anjing mengais-ngais sisa-sisanya.
 
Euro-Med Human Rights Monitor mendokumentasikan praktik-praktik ini melalui program sistematis, dengan menggunakan investigasi lapangan di Gaza utara dan selatan.
 
Laporan lapangan organisasi tersebut menunjukkan bahwa pasukan Israel sering menguburkan jenazah Palestina di ruang publik, area terbuka, dan lokasi di dekat fasilitas penting seperti pusat distribusi bantuan, rumah sakit, dan sekolah.
 
Tindakan ini sering dilakukan setelah area tersebut ditutup secara militer, dengan akses terbatas hanya untuk tim medis, keluarga, dan penduduk setempat.
 
Kelompok yang berbasis di Jenewa tersebut menggarisbawahi bahwa praktik ini menghilangkan potensi bukti pembunuhan di luar hukum, menghambat investigasi menyeluruh, dan menyangkal hak keluarga untuk mengetahui nasib dan lokasi pemakaman orang yang mereka cintai, yang selanjutnya melanggar martabat manusia dan hukum internasional.
 
Sejak Oktober 2023, tentara Zionis Israel telah menewaskan sedikitnya 70.117 warga Palestina, kebanyakan dari mereka wanita dan anak-anak, dan melukai 170.999 lainnya dalam perang dua tahun di Gaza yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir itu menjadi puing-puing.[IT/r]
 
Comment