Meshaal di Konferensi Istanbul: Tidak Ada Normalisasi dengan 'Israel'
Story Code : 1251743
Khaled Meshaal, head of Hamas's diaspora office
Berbicara di konferensi "Perjanjian untuk al-Quds: Menuju Pembaruan Tekad Bangsa dalam Menghadapi Genosida dan Pemusnahan" yang diadakan di Istanbul, Khaled Meshaal, kepala kantor diaspora Hamas, menekankan penolakan mutlak terhadap segala bentuk normalisasi dan hubungan dengan apa yang disebutnya entitas kriminal Zionis Israel.
Ia mendesak negara-negara Arab dan Islam untuk teguh menentang normalisasi, menekankan bahwa keterlibatan apa pun dengan "Zionis Israel" melemahkan perjuangan Palestina dan melegitimasi pendudukan.
Meshaal menegaskan kembali pentingnya melindungi proyek perlawanan dan persenjataannya, dengan menyatakan bahwa Perlawanan dan martabatnya tidak dapat dipisahkan dari identitas dan tekad bangsa. Ia menyerukan komitmen berkelanjutan untuk membebaskan tahanan dan narapidana yang ditahan di penjara pendudukan, memandang kebebasan mereka sebagai tanggung jawab bersama.
Pejabat Hamas tersebut menekankan bahwa kemenangan bagi rakyat Palestina tidak dapat dicapai tanpa persatuan dan kemitraan, menolak segala bentuk monopoli atas pengambilan keputusan dan otoritas nasional, dan menegaskan bahwa rakyat Palestina sendirilah yang harus memerintah diri mereka sendiri, bebas dari pengawasan eksternal, baik di Gaza maupun Tepi Barat.
Peringatan terhadap Yudaisasi, Penggusuran, dan Penaklukan Regional
Meshaal memperingatkan tentang meningkatnya ancaman Yudaisasi, perluasan permukiman, dan pengusiran paksa di Tepi Barat yang diduduki. Ia menggambarkan kebijakan-kebijakan ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas oleh "Israel" untuk menundukkan wilayah tersebut pada agenda politik dan geografisnya, termasuk upaya untuk merekayasa ulang status teritorial Gaza.
Ia menunjuk pada "bahaya nyata dan mendesak" yang dihadapi al-Quds yang diduduki, Masjid al-Aqsa, dan tempat-tempat suci Islam maupun Kristen di seluruh Palestina. Dalam pesan tegasnya kepada para kolaborator, Meshaal menyatakan bahwa "nasib yang menimpa agen Yasser Abu Shabab adalah nasib yang tak terelakkan bagi siapa pun yang mengkhianati rakyat dan tanah airnya."
Pernyataan tersebut merupakan peringatan yang jelas terhadap kolaborasi dengan pendudukan dan penegasan kembali sikap tanpa kompromi gerakan tersebut terhadap kesetiaan nasional.[IT/r]