0
Monday 8 December 2025 - 04:08
Iran vs AS & Zionis Israel:

Komandan IRGC: Iran Akan Mengembangkan Rudal Siluman Canggih untuk Melawan Sistem Israel

Story Code : 1251907
Major General Mohammad Pakpour, Commander-in-Chief of the Islamic Revolution Guards Corps
Major General Mohammad Pakpour, Commander-in-Chief of the Islamic Revolution Guards Corps
“Jika kita dapat melengkapi rudal kita dengan teknologi siluman, kita pasti akan dapat lebih meningkatkan tingkat penetrasinya melalui perisai pertahanan rezim Zionis,” kata Mayor Jenderal Mohammad Pakpour pada hari Minggu (7/12). 
 
Ia merujuk pada agresi Israel-Amerika terhadap Iran pada pertengahan Juni, dan mencatat bahwa Israel dan Amerika Serikat percaya bahwa runtuhnya sistem komando Iran melalui pembunuhan komandan senior pasti akan menyebabkan kegagalan di bidang operasional. “Tetapi itu adalah salah perhitungan besar,” katanya. 
 
Pakpour menjelaskan bahwa segera setelah pengangkatannya, menyusul pembunuhan pendahulunya, pasukan IRGC, bekerja sama dengan Angkatan Darat, melancarkan operasi balasan yang intens dan tegas terhadap Zionis Israel.
 
Menurutnya, Tel Aviv berasumsi Iran hanya akan menembakkan lima atau enam rudal pada hari pertama perang. Namun, Angkatan Bersenjata segera memulai operasi skala besar, mengerahkan rentetan drone dan rudal balistik terhadap rezim Zionis Israel. 
 
Menyoroti respons tegas Teheran terhadap serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, Pakpour mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir perang, Iran memutuskan untuk merespons secara proporsional dengan jumlah bom yang digunakan Amerika. 
 
“Pada malam terakhir perang, pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan AS terpenting di kawasan itu, menjadi sasaran 14 rudal,” ujarnya.
 
Setelah serangan besar itu, tambahnya, Amerika mengirim pesan kepada Iran: “Jika kalian tidak menyerang, kami juga tidak akan menyerang.”
“Akhirnya, pada hari ke-12, musuh, yang tidak mampu menahan serangan rudal dan kohesi nasional kami, menyerukan gencatan senjata,” kata Pakpour.
 
Panglima Garda Revolusi menekankan bahwa serangan rudal Angkatan Bersenjata merupakan salah satu faktor utama di balik kemenangan Iran dalam perang 12 hari dengan Zionis Israel. 
 
"Musuh tentu tahu bahwa jika, amit-amit, mereka mencoba melakukan tindakan apa pun terhadap Republik Islam, mereka akan menghadapi respons yang bahkan lebih keras dan lebih menghancurkan daripada sebelumnya," ia memperingatkan. 
 
Ia menambahkan bahwa penilaian musuh telah mengakui kenyataan ini, sehingga mereka menahan diri untuk tidak mengambil tindakan langsung terhadap Iran. 
 
Pakpour menekankan perlunya menjaga kesiapan dan memperkuat kemampuan teknis maupun taktis, karena musuh juga berupaya mengatasi kelemahan mereka. 
 
Ia menggambarkan perang yang dipaksakan baru-baru ini sebagai "perang teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI)," karena Iran menghadapi sistem canggih AS dan Eropa di medan perang. 
 
Panglima tersebut mendesak Angkatan Bersenjata untuk memprioritaskan pertahanan udara dan pengembangan teknologi siluman. 
 
Pada 13 Juni, Zionis Israel melancarkan perang tanpa provokasi terhadap Iran, menewaskan banyak komandan militer berpangkat tinggi, ilmuwan nuklir, dan warga sipil biasa.
 
Lebih dari seminggu kemudian, Amerika Serikat juga memasuki perang dan mengebom tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, yang jelas-jelas melanggar hukum internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). 
 
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran menargetkan lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan serta pangkalan udara al-Udeid. 
 
Pada 24 Juni, Iran, melalui operasi balasannya yang sukses terhadap rezim Zionis Israel dan AS, berhasil menghentikan serangan ilegal tersebut.[IT/r]
 
Comment