Utusan Khusus AS Akui Washington Dua Kali Mencoba dan Gagal Menggulingkan Pemerintah Iran
Story Code : 1251909
US Special Envoy for Syria Tom Barrack in Damascus, Syria
Dalam wawancara dengan IMI Media Group yang berbasis di UEA, yang diterbitkan oleh surat kabar The National pada hari Jumat (5/12), Barrack mengatakan bahwa sejak 1946, Amerika Serikat telah memimpin sekitar 93 kudeta atau upaya "pergantian rezim" di seluruh dunia, termasuk dua di Iran, yang tidak satu pun berhasil.
"Agar (Trump) kemudian didakwa dengan pergantian rezim, kita sudah mengalami dua pergantian rezim di Iran. Tidak satu pun yang berhasil. Jadi, saya pikir lebih bijaksana untuk menyerahkan masalah ini kepada kawasan untuk diselesaikan," kata Barrack, yang juga duta besar AS untuk Turki.
Pernyataan itu muncul enam bulan setelah AS bergabung dengan Zionis Israel dalam mengebom Iran di tengah-tengah perundingan nuklir tidak langsung antara Tehran dan Washington.
Zionis Israel melancarkan agresi ilegal terhadap Iran pada 13 Juni, menewaskan sedikitnya 1.064 orang dan menargetkan infrastruktur sipil. Lebih dari seminggu kemudian, Amerika Serikat menargetkan tiga lokasi nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dalam pelanggaran berat hukum internasional.
Pada tanggal 24 Juni, Iran berhasil menghentikan serangan kriminal tersebut setelah melancarkan gelombang operasi pembalasan yang berhasil.
Barrack juga mengklaim bahwa Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio “tidak mendukung perubahan rezim” dan lebih memilih “solusi regional” oleh pihak-pihak di kawasan tersebut.
Ia mengakui bahwa dialog regional dan non-intervensi oleh kekuatan eksternal memberikan jalan yang lebih berkelanjutan ke depan.
Pemerintah AS, ia menuduh, tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran, asalkan otoritas Iran menunjukkan “keseriusan” dan komitmen untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Kyodo Jepang pada hari Sabtu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Amerika Serikat belum menunjukkan kesiapan untuk “negosiasi yang nyata dan serius.”
Pembicaraan dapat berlanjut setelah Amerika Serikat mengakui hak Iran atas program energi nuklir damai dan mencabut sanksi sepihak yang telah dijatuhkan kepada negara tersebut, ujarnya.[IT/r]