0
Saturday 13 December 2025 - 14:18
Zionis Islam - Turki:

Konsul Israel Menyebut Turki sebagai “Musuh Israel”, Menolak Peran di Gaza

Story Code : 1252964
Turkey
Turkey's soldiers parade as part of celebrations marking the 102nd anniversary of the creation of the modern Turkish Republic, in Istanbul, Turkey
Akunis menggambarkan Turki sebagai “Zionis Israel,” dengan merujuk pada pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menuduh Zionis Israel “bertindak seperti Hitler dan melakukan genosida di Gaza.” Menurut Akunis, Erdogan “mendorong terorisme,” yang mencerminkan memburuknya hubungan antara Ankara dan otoritas pendudukan Israel di tengah perang di Gaza.
 
Terkait situasi di Suriah, Akunis mengatakan bahwa rezim Zionis Israel tengah berupaya membangun sebuah “pengaturan keamanan” dengan pihak Suriah. “Kami menginginkan pengaturan keamanan dengan Suriah, dan kami harus fokus pada pengaturan keamanan ini,” ujarnya, tanpa merinci cakupan atau kerangka kesepakatan tersebut.
 
Ia juga menyinggung pernyataan lama mantan Menteri Keamanan Zionis Israel, Ehud Barak, yang pernah mengatakan, “Kami akan makan hummus di Damaskus.” Akunis menepis kemungkinan itu dengan mengatakan, “Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dan kami tentu tidak akan makan hummus di Damaskus dalam beberapa tahun ke depan.”
 
Akunis menambahkan bahwa otoritas pendudukan Zionis Israel telah meminta para mediator Amerika Serikat yang mendorong pengaturan keamanan tersebut untuk memastikan bahwa “wilayah antara Damaskus dan Dataran Tinggi Golan didemiliterisasi,” serta untuk mencegah apa yang ia sebut sebagai “pembantaian berkelanjutan terhadap saudara-saudara Druze kami, sebagaimana mereka dibantai dua bulan lalu.”
 
Turki Dorong Peran dalam Pasukan Gaza
Turki disebut tengah mengintensifkan upayanya untuk menjadi bagian dari pasukan militer asing di Gaza, yang diberi nama “International Stabilization Force (ISF),” menurut laporan harian Zionis Israel Israel Hayom. Upaya ini dilakukan di tengah belum adanya komitmen resmi dari negara-negara lain untuk bergabung dalam misi yang dinilai bermasalah tersebut.
 
Gagasan penempatan pasukan militer asing di Gaza telah menimbulkan kekhawatiran mendalam di kawasan, di mana intervensi semacam itu secara luas dipandang sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Palestina dan perpanjangan kontrol eksternal, bukan sebagai upaya stabilisasi.
 
Perdana Menteri pendudukan Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, tetap menentang keras keterlibatan Turki, sebuah sikap yang secara jelas didukung oleh Amerika Serikat.
 
Meski demikian, surat kabar tersebut mengklaim bahwa Erdogan kembali berupaya mendorong masuknya pasukan Turki ke Gaza, terlepas dari sensitivitas politik dan regional yang lebih luas terkait pengerahan tersebut. Israel Hayom juga melaporkan bahwa Ankara telah mengirimkan pesan-pesan baru kepada Tel Aviv agar mempertimbangkan kembali penolakannya terhadap keterlibatan Turki.
 
Sementara itu, negara-negara yang awalnya diperkirakan akan bergabung, terutama Azerbaijan, belum mengambil keputusan final terkait partisipasi. Menteri Luar Negeri Azerbaijan, Jeyhun Bayramov, mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan dari Baku “belum sepenuhnya dijawab,” mencerminkan ketidakjelasan yang terus berlanjut mengenai mandat, tujuan, dan legalitas misi tersebut. 
 
Pasukan Turki Siap Dikerahkan
Sebaliknya, surat kabar lokal Turki, Türkiye, melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Turki telah menyelesaikan persiapan untuk berpartisipasi dalam pasukan stabilisasi dan penjaga perdamaian yang diusulkan tersebut. Laporan itu menyebutkan bahwa unit-unit yang ditunjuk untuk misi ini telah siap dan menunggu perintah pengerahan.
 
Pada saat yang sama, surat kabar tersebut mencatat bahwa Amerika Serikat menginginkan pasukan Turki dilibatkan dalam pasukan yang diusulkan, meskipun terdapat penolakan yang jelas dari pihak “Zionis Israel,” yang menunjukkan adanya kepentingan geopolitik yang saling bersaing dalam perdebatan ini.
 
Tom Barrack, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus Utusan Khusus untuk Suriah, secara terbuka mendorong partisipasi Turki dalam pasukan tersebut, dengan menilai keterlibatan Ankara sebagai hal yang krusial bagi keberhasilan misi. Dalam wawancaranya dengan i24NEWS, Barrack menjelaskan bahwa Turki memiliki kualifikasi unik untuk peran tersebut, dengan mencatat bahwa negara itu memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO serta saluran komunikasi yang telah terjalin dengan Hamas.[IT/r]
 
 
Comment