Sumber: Upaya Sedang Dilakukan untuk Mmengubah Mandat UNIFIL Guna Menekan Lebanon
Story Code : 1258250
UNIFIL forces
Upaya sedang dilakukan untuk memberikan tekanan diplomatik tambahan pada Lebanon dengan meninjau kembali peran pasukan PBB yang beroperasi di selatan, Ain el-Tineh, yaitu istana ketua parlemen, demikian sumber mengatakan kepada Al Mayadeen pada hari Rabu (7/1).
Menurut sumber tersebut, ada upaya yang sedang berlangsung untuk "mengubah mandat pasukan UNIFIL, dan mungkin melihat penarikan beberapa negara, untuk meningkatkan tekanan" pada Lebanon. Langkah-langkah tersebut, mereka memperingatkan, adalah bagian dari strategi yang lebih luas yang bertujuan untuk membentuk kembali kerangka kerja internasional yang mengatur situasi di sepanjang perbatasan selatan Lebanon, meskipun Israel terus melanggar perjanjian yang ada.
Sumber tersebut mengindikasikan bahwa fase selanjutnya yang dihadapi Lebanon akan berlangsung terutama di bidang diplomatik, menggambarkannya sebagai pertempuran yang "bersifat diplomatik, khususnya di Dewan Keamanan PBB." Dalam konteks ini, mereka menekankan bahwa "Lebanon harus mematuhi implementasi Resolusi 1701 bersamaan dengan perjanjian gencatan senjata tanggal 27 November 2024."
Mereka menambahkan bahwa pendekatan Lebanon dalam periode mendatang akan dipandu oleh referensi ketat terhadap kerangka kerja internasional, dengan mengatakan bahwa "kepatuhan terhadap resolusi internasional akan mengatur fase negosiasi selanjutnya melalui mekanisme tersebut."
Pasukan Penjaga Perdamaian yang Menjadi Sasaran
Pernyataan ini muncul ketika UNIFIL sendiri telah berulang kali berada dalam bahaya akibat tindakan Israel. Pada tanggal 2 Januari, pasukan penjaga perdamaian PBB yang berpatroli di dekat Kfar Chouba ditembaki dua kali, dengan peluru senjata ringan dan senapan mesin mendarat dalam jarak puluhan meter dari posisi mereka. UNIFIL mengatakan tembakan tersebut "tampaknya berasal dari posisi pasukan Israel di selatan Garis Biru," meskipun pasukan Zionis Israel telah diberitahu sebelumnya tentang patroli tersebut, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
UNIFIL memperingatkan bahwa insiden semacam itu terjadi dengan frekuensi yang meningkat, menyebutnya sebagai "tren yang mengkhawatirkan" dan menekankan bahwa serangan terhadap atau di dekat pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi 1701. Insiden serupa dilaporkan pada akhir Desember, ketika tembakan Israel melukai seorang tentara PBB dan berulang kali menargetkan patroli PBB yang beroperasi di sepanjang perbatasan.
Tekanan Diplomatik
Dalam beberapa bulan terakhir, UNIFIL telah mendokumentasikan pola intimidasi dan agresi Zionis Israel yang berkelanjutan, termasuk tembakan tank di dekat pasukan penjaga perdamaian, granat yang dijatuhkan drone di dekat posisi PBB, dan penghancuran penanda Garis Biru dan infrastruktur Angkatan Bersenjata Lebanon. Tindakan-tindakan ini telah terjadi meskipun ada kerangka gencatan senjata dan di depan mata para pengawas internasional yang bertugas menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan.
Dengan latar belakang ini, para pejabat Lebanon melihat upaya untuk merevisi mandat UNIFIL bukan sebagai respons terhadap pelanggaran di lapangan, tetapi sebagai manuver politik yang berisiko melindungi agresi Israel sambil mengalihkan tanggung jawab kepada Lebanon. Saat pembahasan berlanjut ke Dewan Keamanan PBB, Beirut berupaya untuk memperkuat posisinya dalam resolusi dan perjanjian yang ada, memperingatkan bahwa mengubah ketentuan misi akan merusak mekanisme yang dimaksudkan untuk menegakkan hukum internasional dan melindungi pasukan penjaga perdamaian dari serangan Zionis Israel yang berkelanjutan.[IT/r]