0
Friday 16 January 2026 - 07:53

Kemunafikan Kekaisaran: Trump Bersorak atas Kerusuhan di Iran Sambil Melegitimasi Pembunuhan Berdarah Dingin di Dalam Negeri

Story Code : 1259142
Trump (PressTV).
Trump (PressTV).
Insiden penembakan terhadap Renee Good oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) di Minneapolis, Minnesota, pada Rabu lalu, secara telak membalik narasi resmi AS tentang “kerusuhan” dan “keamanan publik.” Good, seorang ibu berusia 37 tahun, ditembak mati setelah mengantar anaknya, dalam operasi penegakan imigrasi terbesar yang pernah dilakukan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).

Lebih dari 2.000 agen federal dikerahkan ke Minneapolis—kota dengan populasi Somalia terbesar di AS. Rekaman video dan kesaksian saksi mata menunjukkan bahwa Good telah memberi tahu petugas bahwa ia akan pergi. Ia tidak bersenjata, tidak mengancam, dan tidak mencoba melukai siapa pun. Meski demikian, kendaraan miliknya diserbu, dan ia ditembak tiga kali di wajah. Lebih jauh, agen ICE dilaporkan menghalangi ambulans dan mencegah pertolongan medis, membiarkannya kehabisan darah hingga meninggal dunia.

Tak lama setelah kejadian, Gedung Putih, DHS, ICE, dan politisi Partai Republik meluncurkan narasi terkoordinasi untuk membenarkan pembunuhan tersebut. Good dilabeli sebagai “teroris domestik” dan “penghasut profesional,” dengan tuduhan bahwa ia sengaja mencoba menabrak petugas. Klaim ini dibantah oleh mantan suaminya, yang menegaskan bahwa Good tidak memiliki riwayat aktivitas politik dan dikenal sebagai ibu rumah tangga, penyair, penyanyi, serta penganut Kristen yang taat.

Upaya pembungkaman juga menyusul. Kepala Biro Penangkapan Kriminal Minnesota menyatakan bahwa kantor jaksa AS melarang lembaganya terlibat dalam penyelidikan. Penanganan kasus sepenuhnya dialihkan ke FBI, sementara otoritas negara bagian kehilangan akses terhadap bukti dan saksi, sehingga menutup kemungkinan penyelidikan yang independen.

Sikap pejabat Partai Demokrat pun tak jauh berbeda. Gubernur Minnesota Tim Walz hanya menyampaikan kecaman simbolik dan menyerukan penyelidikan, sembari mengerahkan Garda Nasional untuk menekan demonstran. Padahal, pemerintah negara bagian memiliki kewenangan untuk mengerahkan penegak hukum lokal guna mengusir ICE dari wilayahnya. Pola ini mengulang respons keras Walz pada 2020, ketika Garda Nasional dikerahkan pasca-pembunuhan George Floyd.

Kurang dari 24 jam setelah penembakan Renee Good, agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) menembak dua migran di Portland, Oregon, dengan dalih serupa: korban dituduh mencoba menabrak petugas saat operasi pencarian anggota geng Venezuela. Narasi “ancaman kendaraan” kini menjadi justifikasi standar kekerasan aparat federal.

Di berbagai kota, komunitas lokal bahkan melakukan patroli untuk memperingatkan warga atas kehadiran ICE, demi mencegah penculikan dan deportasi. Tindakan ini secara langsung mengganggu operasi ICE, yang secara terbuka memposisikan misinya sebagai upaya “menyelamatkan” Amerika dari apa yang oleh DHS disebut sebagai “pengepungan Dunia Ketiga”—klaim yang ironis, mengingat justru kebijakan luar negeri AS-lah yang selama puluhan tahun mengepung negara-negara berkembang.

Meski korban di Minneapolis adalah perempuan kulit putih—pengecualian dalam pola kekerasan negara—penembakan oleh polisi dan aparat imigrasi di AS bukanlah anomali. Laporan Mapping Police Violence mencatat bahwa sepanjang 2025, aparat penegak hukum AS telah membunuh 1.301 orang.

Dalam konteks global, kemunafikan ini semakin kentara. Setiap tuduhan yang dilontarkan Barat terhadap musuh geopolitiknya kerap berfungsi sebagai proyeksi atas kejahatan mereka sendiri. Di Iran, protes damai atas masalah ekonomi dibajak oleh kepentingan asing—khususnya AS dan rezim Zionis—menjadi kerusuhan bersenjata. Aparat keamanan Iran diserang, rumah sakit dan gedung pemerintah dibakar, masjid dinodai, dan seruan untuk memulihkan monarki pro-Israel dikumandangkan.

Pejabat AS dan Mossad bahkan secara terbuka mengakui keterlibatan mereka. Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menulis di media sosial, “Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga, untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka.” Dalam unggahan berbahasa Persia, Mossad secara langsung mendorong kerusuhan dan mengklaim kehadiran agen-agennya di lapangan.

Sebaliknya, aksi-aksi damai yang memperkuat kedaulatan Iran—seperti pemogokan buruh di Kilang Gas South Pars—sepenuhnya diabaikan oleh media Barat.

Donald Trump, yang menurut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei memiliki “tangan yang berlumuran darah ribuan warga Iran,” berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika pemerintahnya “membunuh demonstran.” Khamenei menyingkap kemunafikan ini dengan membandingkannya pada kerusuhan berkepanjangan di Paris dan mempertanyakan reaksi dunia jika Iran ikut campur secara terbuka.

Lebih dari sekadar kemunafikan, peristiwa ini memperlihatkan karakter mendasar kedua negara. Di AS, demonstran menghadapi rezim yang menopang genosida dan kejahatan perang global. Di Iran, kerusuhan yang didukung Barat bertujuan mendestabilisasi negara dari dalam.

Akademisi Universitas Teheran, Helyeh Doutaghi, menjelaskan kontras ini. Dalam pemogokan South Pars, aparat Iran justru melindungi para buruh. “Di negara-negara imperialis, polisi adalah lengan domestik kekaisaran—menekan perbedaan pendapat dan menegakkan akumulasi modal melalui kekerasan,” tulisnya. Sebaliknya, aparat Iran lahir dari revolusi rakyat yang menentang dominasi imperialisme.

Amerika Serikat, yang sistem kepolisiannya berakar pada patroli budak dan kekerasan kolonial, kini menunjukkan bahwa perang domestik terhadap rakyatnya sendiri masih berlangsung. Pembunuhan Renee Good menjadi bukti bahwa bahkan warga kulit putih pun tidak kebal.

Dengan demikian, eskalasi kekerasan AS—baik melalui ICE di dalam negeri maupun agresi militer di luar negeri—bukanlah penyimpangan, melainkan cerminan konsisten dari karakter historisnya: genosida dan kejahatan perang. Tak mengherankan jika Imam Ruhollah Khomeini menyebut AS sebagai “Setan Besar.”

Dalam lanskap konflik global yang kian menyerupai Perang Dunia III, Republik Islam Iran dan poros perlawanan yang didukungnya diposisikan sebagai salah satu benteng utama melawan barbarisme fasis dan imperialis global.[IT/AR]
Comment