Netanyahu Akan Bertemu Trump Rabu Mendatang di Washington untuk Membahas Pembicaraan dengan Iran
Story Code : 1262790
Israel Prime Minister Benjamin Netanyahu
Menurut pernyataan tersebut, Netanyahu meyakini bahwa setiap pembicaraan dengan Tehran harus mencakup pembatasan terhadap rudal balistik dan penghentian dukungan untuk sekutu-sekutu regional Iran.
Sementara itu, saluran berita Zionis Israel Channel 12 melaporkan bahwa seorang pejabat senior Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Netanyahu meminta untuk memajukan kunjungannya ke Rabu mendatang, menggantikan jadwal yang awalnya ditetapkan untuk minggu berikutnya. Kanal tersebut menambahkan bahwa urgensi kunjungan ini disebabkan oleh pernyataan Iran yang menunjukkan bahwa pembicaraan AS-Iran hanya fokus pada program nuklir, bukan pada pengembangan rudal balistik.
Perkembangan ini mengikuti pembicaraan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran di ibu kota Oman, Muscat, yang digambarkan sebagai "positif". Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan bahwa pembicaraan tersebut terbatas pada masalah nuklir. Reuters juga mengutip seorang diplomat regional pada hari Jumat, yang mencatat bahwa pembicaraan di Muscat tidak membahas kemampuan rudal Iran.
Media Israel: Iran Menentukan Arah Pembicaraan, Sementara 'Zionis Israel' Terisolasi
Lebih lanjut, Channel 12 Zionis Israel bahkan mengungkapkan kekhawatiran bagaimana Iran masih berdiri teguh, dan Tehran terus menentukan tempat dan agenda pembicaraan, sebuah kenyataan yang memperkuat posisi Iran di kawasan tersebut.
Menurut saluran tersebut, ada sebuah "kenyataan yang berusaha dilupakan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu," yaitu bahwa negara-negara Teluk secara berulang kali mendekati Presiden AS Donald Trump untuk memberitahunya bahwa "Zionis Israel" sekali lagi menarik Washington ke dalam konfrontasi dengan Iran yang pada akhirnya tidak membawa hasil apa pun, dengan alasan bahwa “rezim ini tidak akan jatuh dan tidak ada yang akan berubah.”
Channel 12 menambahkan bahwa dinamika serupa juga terjadi di Gaza, di mana para mediator dilaporkan memberi tahu Trump bahwa Netanyahu bertaruh pada kegagalan fase kedua negosiasi. Mereka berpendapat bahwa perdana menteri tidak ingin fase tersebut berhasil, tidak ingin "Zionis Israel" menjadi bagian dari pasukan internasional yang akan dikerahkan di Gaza, dan mencegah mereka untuk menekan Hamas agar menyerahkan senjata.
"Pada akhirnya, mereka berusaha meyakinkan Trump, baik mengenai masalah Iran maupun Gaza, bahwa Zionis Israel adalah faktor yang menghalangi, bukan yang bekerja untuk membawa kita menuju fase kedua," kata saluran tersebut.
Iran-AS Gelar Putaran Pertama Pembicaraan Tidak Langsung
Putaran pertama pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung di Muscat, Oman, pada 6 Februari, menandai keterlibatan diplomatik pertama antara kedua belah pihak dalam beberapa bulan. Pembicaraan ini dimediasi oleh pejabat Oman, dengan setiap delegasi berada di ruang terpisah sementara pesan-pesan dipertukarkan melalui perantara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan sesi tersebut sebagai "awal yang baik", menekankan bahwa pembicaraan difokuskan hanya pada masalah nuklir. Tehran menegaskan bahwa isu seperti program rudal atau peran regionalnya tidak termasuk dalam agenda, dengan membingkai pembicaraan sebagai terbatas pada masalah yang terkait dengan nuklir.
Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan yang meningkat setelah konfrontasi militer singkat tahun lalu dan meningkatnya kehadiran militer AS di Teluk. Washington dilaporkan mencari pembatasan terhadap kegiatan pengayaan Iran, sementara Teheran bersikeras pada haknya untuk teknologi nuklir damai dan menuntut pengurangan sanksi yang nyata. Selain itu, Washington berusaha memberlakukan pembatasan terhadap pertahanan Iran, yaitu program rudal balistiknya, yang dengan keras ditolak oleh Iran.
Washington Berusaha Memperluas Pembicaraan, Iran Menolak
Washington telah memberi sinyal bahwa mereka berusaha untuk memperluas pembicaraan melampaui kegiatan nuklir Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada 4 Februari bahwa Amerika Serikat ingin pembicaraan tersebut juga mencakup program rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok bersenjata di seluruh kawasan, dan apa yang disebutnya sebagai "perlakuan terhadap rakyat mereka."
Namun, seorang diplomat regional yang diberi pengarahan oleh Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dengan tegas menolak segala upaya untuk memperluas agenda pembicaraan, dengan menegaskan bahwa diskusi harus tetap berfokus pada masalah nuklir dan mengulangi “hak mereka untuk memperkaya uranium.” Diplomat tersebut juga mencatat bahwa program rudal Iran tidak dibahas selama pembicaraan.
Menurut pejabat yang terlibat, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan jalur diplomatik setelah berkonsultasi dengan ibu kota mereka masing-masing. Tidak ada terobosan konkret yang diumumkan, namun suasana pembicaraan digambarkan cukup konstruktif untuk melanjutkan keterlibatan lebih lanjut.
Putaran berikutnya diperkirakan akan dijadwalkan bekerja sama dengan Oman, dengan diplomat yang menunjukkan bahwa beberapa minggu mendatang akan menentukan apakah proses ini dapat bergerak melampaui pertukaran awal menuju negosiasi yang lebih substansial.[IT/r]