Araghchi: Baik Diplomasi Maupun Perang Sama-sama Menjadi Opsi
Story Code : 1262934
Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi speaks to journalists during a press conference in Istanbul, Turkey
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat tidak akan membuahkan hasil "kecuali pihak lain menghormati dan mengakui hak-hak rakyat Iran."
Berbicara di Konferensi Nasional tentang Kebijakan dan Sejarah Hubungan Luar Negeri di Iran, Araghchi menekankan bahwa "Iran tidak menerima perintah apa pun, dan tidak ada solusi kecuali melalui negosiasi." Ia menegaskan kembali bahwa tujuan negara tetap untuk mengamankan kepentingan nasional rakyat Iran melalui jalan yang menghormati hak-hak mereka.
Araghchi menolak anggapan bahwa tekanan atau ancaman militer dapat memaksa Iran untuk mundur dari pendiriannya. "Beberapa orang berpikir menyerang Iran akan memaksanya untuk menyerah; ini tidak mungkin terjadi," katanya.
Dalam perbandingan historis, ia mengkontraskan sikap pemerintah saat ini dengan sikap Shah, dengan menyatakan, "Shah pergi ke mana pun mereka mau. Iran saat ini berdiri teguh dan tidak akan menyerahkan hak-haknya." Ia menekankan bahwa Iran siap untuk diplomasi dan konfrontasi: "Iran mampu berdiplomasi dan mampu berperang, bahkan jika mereka tidak menginginkannya. Jika mereka memilih jalan diplomasi, kami siap untuk itu."
Araghchi menegaskan kembali sikap teguh Iran terhadap program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan menerima tuntutan apa pun untuk menghilangkan kegiatan pengayaan uraniumnya, dengan mengatakan, "Tidak ada pihak yang berhak menuntut agar kami menghilangkan pengayaan uranium sepenuhnya."
Pezeshkian: Dialog dengan Washington adalah langkah positif
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Minggu (8/2) menggambarkan negosiasi baru-baru ini antara Iran dan Amerika Serikat, yang diadakan dengan dukungan pemerintah-pemerintah sahabat di kawasan itu, sebagai "langkah maju."
Ia menegaskan kembali bahwa dialog tetap menjadi pendekatan strategis bagi Tehran dalam menyelesaikan perselisihan secara damai. Pezeshkian menjelaskan bahwa sikap nuklir Iran didasarkan pada kerangka hukum yang diuraikan dalam Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). "Rakyat Iran selalu membalas rasa hormat dengan rasa hormat, tetapi mereka tidak menerima bahasa paksaan dan ancaman," katanya.
Sesi negosiasi terbaru menandai kontak langsung pertama antara Iran dan Amerika Serikat sejak agresi yang dilancarkan oleh "Israel" dan AS terhadap Iran pada bulan Juni.
Pada hari Jumat, kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan bahwa tercapainya pernyataan politik setelah putaran pertama pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat dapat mewakili langkah konstruktif menuju pengurangan ketegangan regional saat ini dengan menyediakan kerangka kerja untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran.
Kantor berita tersebut mencatat bahwa baik pihak Iran maupun AS sekarang memiliki pemahaman yang lebih jelas dan realistis tentang biaya konfrontasi, serta kebutuhan bersama untuk mengelola krisis.
IRNA menyoroti bahwa ciri khas dari putaran pembicaraan ini, yang berpotensi menghasilkan hasil berbeda dari putaran sebelumnya, adalah unsur realisme yang lebih kuat. Pernyataan para pejabat Iran menunjukkan bahwa Teheran memasuki negosiasi dengan agenda yang jelas dan fokus yang kuat pada hasil yang nyata.[IT/r]