Timur Tengah di Ambang Perang: Mengapa Perundingan AS–Iran Bisa Menjadi Kesempatan Terakhir bagi Perdamaian
Story Code : 1263147
Middle East war
Saat awan perang menggelayuti Iran, akankah Hizbullah dan Houthi turun tangan membela Tehran?
Apa yang Dipertaruhkan dalam Putaran Baru Perundingan AS–Iran?
Iran dan perwakilan pemerintahan Trump diperkirakan akan menggelar putaran perundingan baru dalam beberapa hari mendatang, ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat (6/2).
Pengumuman tersebut menyusul perundingan maraton selama enam jam di Muscat, ibu kota Oman, di mana Araghchi dan timnya bertemu dengan Jared Kushner—menantu Presiden AS Donald Trump—Steve Witkoff, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, serta Jenderal Brad Cooper, Kepala Staf Komando Pusat AS (CENTCOM).
Lokasi putaran berikutnya belum ditetapkan. Oman mungkin akan digantikan oleh negara Teluk lainnya atau kemungkinan Turkiye, namun fokus pembahasan diperkirakan tetap sama: kapabilitas militer Iran.
Agenda utama adalah program nuklir Tehran, yang menurut Iran semata-mata ditujukan untuk energi sipil dan riset.
Namun Washington tetap sangat skeptis, dengan alasan bahwa tingkat pengayaan, cadangan, dan kemajuan teknologi Iran mengarah pada potensi penggunaan militer. AS menginginkan program tersebut dibatasi secara drastis atau dibongkar sepenuhnya.
Isu nuklir hanyalah satu dari sejumlah titik perselisihan besar antara kedua pihak.
Dalam konferensi pers pada Rabu lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menguraikan apa yang ia sebut sebagai syarat minimum agar perundingan berhasil. Selain pembatasan nuklir, Rubio menyatakan bahwa program rudal balistik Iran harus dibahas, dan Teheran harus menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok Islamis bersenjata di seluruh Timur Tengah.
Tuntutan tersebut mencerminkan kekhawatiran lama AS. Program rudal Iran dipandang di Washington sebagai sistem penghantar potensial bagi senjata nuklir di masa depan, sementara dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan berbagai milisi Irak dianggap sebagai faktor destabilisasi kawasan.
Garis Merah yang Tak Bergeser
Iran secara konsisten menolak syarat-syarat tersebut. Para pejabat di Tehran berpendapat bahwa program rudalnya bersifat defensif dan tidak dapat dinegosiasikan, terutama mengingat pengalaman Iran dengan perang, sanksi, dan isolasi. Demikian pula, para pemimpin Iran berulang kali membingkai dukungan terhadap kelompok sekutu sebagai respons yang sah terhadap pengaruh Israel dan Barat di Timur Tengah.
Karena itu, harapan akan terobosan besar tetap rendah.
Iran kecil kemungkinan membuat konsesi berarti terkait program rudal balistiknya, dan juga tidak diperkirakan akan meninggalkan sekutu-sekutu lamanya, termasuk Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Jika posisi-posisi ini tidak berubah, para analis memperingatkan bahwa jalan menuju konfrontasi militer akan semakin sempit.
Para pakar berulang kali mengingatkan bahwa konflik langsung antara Iran dan Amerika Serikat hampir pasti akan meluas melampaui pertempuran bilateral. Konflik tersebut berpotensi memicu perang regional, khususnya jika kelompok-kelompok yang didukung Iran turut terlibat.
Pandangan Milisi Terkuat Lebanon terhadap Perang yang Mungkin Terjadi
Seorang pejabat Hizbullah, yang berbicara dengan syarat anonim, menggemakan kekhawatiran tersebut dan memperingatkan bahwa seluruh Timur Tengah dapat terseret ke dalam konfrontasi skala penuh.
“Semua negara di kawasan siap menghadapi konfrontasi ini,” ujar pejabat tersebut. “Itulah sebabnya Arab Saudi, UEA, Yordania, dan negara-negara lain mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk menyerang Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga telah menyatakan bahwa setiap perang terhadap Iran akan menjadi perang regional. Bagi Teheran, ini akan menjadi perang untuk bertahan hidup. Dampaknya akan dirasakan oleh semua negara di kawasan.”
Meski menyampaikan peringatan keras, pejabat tersebut tidak memastikan apakah Hizbullah akan secara aktif campur tangan jika Iran diserang.
“Kami bisa saja turun tangan, bisa juga tidak,” katanya. “Syekh Naim Qassem [pemimpin Hizbullah – red.] menegaskan hak perlawanan dan pembelaan Lebanon. Posisi kami adalah kami tidak akan menerima Zionis Israel, atau siapa pun, menyerang kami sementara kami hanya diam.”
Pernyataan tersebut mencerminkan upaya Hizbullah mempertahankan ambiguitas strategis. Namun para analis mencatat bahwa bahkan jika kelompok itu ingin campur tangan secara tegas, kapasitasnya telah melemah secara signifikan setelah konfrontasi terbarunya dengan Zionis Israel.
Sebelum perang yang meletus pada Oktober 2023, Hizbullah diyakini memiliki salah satu arsenal roket dan rudal terbesar di dunia, diperkirakan lebih dari 150.000 proyektil. Setelah berbulan-bulan serangan udara Israel dan operasi terarah, persediaan tersebut diyakini menyusut drastis—hingga 70–80%—menurut sejumlah penilaian. Peluncur roket juga sangat terdegradasi, dengan beberapa perkiraan menyebutkan hanya tersisa sebagian kecil dari tingkat sebelum perang.
Kerusakan tidak terbatas pada persenjataan. Hizbullah juga mengalami kerugian personel besar. Tokoh-tokoh senior seperti Hassan Nasrallah, Hashem Safieddine, Fuad Shukr, Ali Karaki, dan lainnya telah tewas. Sistem terowongan, depot penyimpanan, dan pusat komando dihancurkan, sementara jaringan keuangan yang sebelumnya menyalurkan dana kepada pejuang dan pendukungnya terganggu atau lumpuh.
Meski demikian, pejabat Hizbullah tersebut bersikeras bahwa kelompoknya tetap mampu melawan Zionis Israel.
“Israel tahu bahwa bahkan setelah perang berakhir, roket-roket perlawanan masih jatuh di banyak bagian entitas [Israel], terutama di Tel Aviv,” katanya.
“Mereka tahu perang tidak berakhir dengan hilangnya kemampuan perlawanan. Justru sebaliknya. Inilah sebabnya Israel dan Amerika berupaya menekan Hizbullah agar melucuti senjata.”
Menurutnya, tekanan tersebut tidak akan berhasil.
“Kami adalah kelompok yang menolak hidup dalam kehinaan. Dalam keyakinan kami, kami adalah orang-orang bermartabat, dan kami tidak akan menerima negara kami diduduki, agresi dilakukan, orang-orang tak bersalah dibunuh, sementara kami hanya berdiam diri.”
Mengapa Yaman Bisa Menjadi Front Lain
Retorika menantang serupa juga muncul dari Yaman. Berbicara dari Sana’a, juru bicara Houthi Mohammed al-Bukhaiti mengatakan kepada RT bahwa kelompoknya “tidak memiliki kekhawatiran sama sekali” dalam menghadapi Israel atau AS.
“Bahkan, kami lebih memilih konfrontasi langsung dengan musuh Amerika dan Israel daripada konfrontasi tidak langsung dengan alat-alat mereka di kawasan atau para tentara bayaran mereka di dalam negeri,” ujarnya.
“Kami memandang kesyahidan di jalan Allah sebagai kemenangan, bukan kekalahan.”
Al-Bukhaiti menyatakan bahwa Iran telah “berkorban banyak” untuk rakyat Yaman dan bahwa Houthi berniat membalas “kesetiaan dengan kesetiaan.”
Namun, seperti Hizbullah, Houthi juga menghadapi keterbatasan serius. Bahkan sebelum serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu eskalasi regional saat ini, ekonomi Yaman sudah berada dalam kondisi sangat buruk akibat bertahun-tahun perang saudara. Serangan Israel terhadap pelabuhan dan infrastruktur utama sebagai respons atas serangan rudal dan drone Houthi semakin memperparah keadaan, dengan estimasi kerusakan langsung dan tidak langsung melebihi 1 miliar dolar AS.
Meski mengalami kemunduran tersebut, al-Bukhaiti mengklaim bahwa “kapabilitas militer kami telah meningkat dan berkembang secara signifikan” dan mengatakan bahwa Houthi “lebih siap menghadapi putaran-putaran berikutnya.” Ia menolak merinci kemampuan tersebut atau tindakan apa yang akan diambil jika Iran diserang.
Di masa lalu, respons Houthi mencakup peluncuran rudal dan drone ke arah Israel, serangan terhadap pelayaran internasional, gangguan aliran minyak, dan bahkan interferensi terhadap kabel internet bawah laut. Jika ketegangan kembali meningkat, para analis meyakini taktik serupa dapat kembali digunakan.
Saat para perunding bersiap bertemu kembali, jurang antara tuntutan AS dan garis merah Iran tetap lebar. Apakah diplomasi masih mampu meredam krisis, atau kawasan justru semakin mendekati perang multi-front, mungkin bergantung tidak hanya pada apa yang diucapkan di meja perundingan, tetapi juga pada sejauh mana sekutu-sekutu Iran bersedia—dan mampu—bertindak ketika kata-kata berubah menjadi aksi.[IT/r]Oleh Elizabeth Blade, koresponden RT Timur Tengah