Musuh, katanya dalam pertemuan dengan mahasiswa di Mashhad pada Jumat, selalu menjalankan strategi konsisten untuk menekan Iran dari luar dan menghancurkan negara dari dalam.
“Dengan kata lain, mereka secara konsisten menjalankan ‘kebijakan tekanan dari luar dan penghancuran dari dalam’ dengan memanfaatkan semua perangkat keras dan lunak yang mereka miliki. Namun, kemajuan kami luar biasa,” tambahnya.
Ia mencatat bahwa kekuatan arogan global berupaya mendominasi Iran karena negara itu merupakan yang kedua di dunia dalam cadangan minyak dan gas serta memiliki sumber daya mineral besar.
Kawasan tersebut memiliki peluang investasi besar dan keunggulan ekonomi melimpah, jelasnya.
Kepala nuklir Iran menegaskan kembali bahwa Teheran tidak berniat mengembangkan bom nuklir dan telah melakukan perundingan dengan berbagai pihak selama 25 tahun terakhir yang menghasilkan kesepakatan nuklir 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
“Namun mereka bahkan tidak dapat mentolerir JCPOA,” katanya, merujuk pada penarikan sepihak Presiden AS Donald Trump dari kesepakatan pada 2018 serta penerapan kembali sanksi.
“Sanksi adalah sarana utama mereka untuk menghentikan negara dan memaksanya tunduk,” tegasnya.
JCPOA merupakan perjanjian internasional multilateral antara Iran, lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan Jerman pada 2015. Berdasarkan kesepakatan yang berlaku sejak Januari 2016 itu, Iran menerima pembatasan tertentu pada program nuklirnya sebagai imbalan keringanan sanksi.
Namun Trump menarik Washington dari perjanjian yang didukung DK PBB tersebut dan menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Teheran, meski Iran mematuhi komitmennya bahkan hingga satu tahun setelah penarikan AS.
“Terlepas dari semua sabotase ini, kemajuan negara dalam industri militer, sektor nuklir, industri ruang angkasa, dan bidang lain sangat luar biasa dan ajaib,” kata Eslami.
Ia memperingatkan bahwa musuh menuduh program nuklir Iran bertujuan membuat bom dan berusaha membingungkan opini publik agar sebagian orang berkata, “Lupakan saja. Mengapa mengejar teknologi nuklir? Tinggalkan dan selamatkan negara.”
“Padahal Iran tidak pernah mencari bom dan tidak memiliki program untuk membuatnya,” ujarnya.
Delegasi Iran dan AS yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff kembali melanjutkan perundingan nuklir di Muscat pada 6 Februari, beberapa bulan setelah agresi AS–Israel Juni 2025.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al Busaidi menjadi perantara antara kedua pihak, dengan perundingan tetap berlangsung secara tidak langsung.
Negosiasi ini mengikuti beberapa pekan ketegangan setelah AS mengerahkan kekuatan udara dan laut ke kawasan serta mengancam menyerang kembali Republik Islam. Iran menegaskan tidak akan meninggalkan diplomasi namun siap menangkis setiap agresi. [IT/G]