Pertahanan Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS dan Serang Kapal Induk Abraham Lincoln
Story Code : 1267847
Markas Besar Khatam al-Anbiya, komando operasional angkatan bersenjata Iran, mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara Iran berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah jet tempur Amerika jenis F-15E dalam perkembangan terbaru eskalasi militer di kawasan.
Dalam pernyataan resmi yang dilansir Al Mayadeen pada Jumat (6/3/26), markas tersebut juga mengungkapkan bahwa kapal induk Amerika USS Abraham Lincoln menjadi sasaran serangan drone Angkatan Laut Iran di Laut Oman, sekitar 340 kilometer dari perbatasan perairan Iran.
Menurut pernyataan itu, setelah terkena serangan drone, kapal induk tersebut bersama kapal perusak pengawalnya mundur dari kawasan dan menjauh lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah tersebut.
Lebih dari 2.000 Drone dan 600 Rudal Diluncurkan
Markas Khatam al-Anbiya juga mengungkapkan bahwa Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dan lebih dari 600 rudal terhadap target Amerika di kawasan serta sasaran Israel di wilayah Palestina yang diduduki.
Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari rangkaian operasi militer yang sedang berlangsung, yang menargetkan berbagai fasilitas militer dan posisi strategis lawan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan respons terhadap apa yang disebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Komandan Militer Iran: Serangan Akan Berlanjut
Dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayjen Ali Abdollahi, mengatakan bahwa agresi terhadap Iran dilakukan oleh musuh sebagai upaya menutupi serangkaian kekalahan yang mereka alami.
“Musuh menyerang negara kita untuk menutupi kekalahan beruntun yang mereka alami,” kata Abdollahi dalam pesannya.
Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah memberikan “pukulan keras” terhadap apa yang ia sebut sebagai “Setan Besar, Amerika Serikat, dan rezim Zionis pembunuh anak-anak.”
Menurutnya, operasi militer Iran akan terus berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar dalam beberapa waktu mendatang.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di berbagai front kawasan Timur Tengah. []