IRGC Sambut dan Menunggu Pengawalan Kapal Tanker AS di Selat Hormuz
Story Code : 1267969
Menurut laporan Press TV pada Sabtu, 7/3/26), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis sebagai tanggapan atas komentar terbaru Presiden Amerika Serikat dan juru bicara Gedung Putih.
“Iran dengan tegas menyambut pengawalan kapal tanker minyak dan klaim kehadiran pasukan Amerika untuk memfasilitasi pelayaran melalui Selat Hormuz,” ujarnya.
“Bahkan, kami menunggu kedatangan mereka.”
Brigadir Jenderal Naeini juga mengatakan bahwa Iran menyarankan agar Amerika terlebih dahulu mengingat insiden tahun 1987, ketika supertanker Amerika Bridgeton menabrak ranjau dan terbakar, serta beberapa kapal tanker yang baru-baru ini juga menjadi sasaran serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis mengatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan, guna membantu memulihkan arus ekspor minyak di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat perang agresi Amerika–Israel terhadap Iran.
Trump bahkan menawarkan asuransi risiko politik bagi kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz guna meredakan lonjakan tajam harga energi di tengah konflik dengan Iran.
Dengan ratusan kapal saat ini tertahan di Teluk Persia, para analis mempertanyakan apakah Amerika Serikat memiliki aset angkatan laut yang cukup di kawasan untuk menjamin perjalanan aman kapal-kapal tersebut, terutama ketika Angkatan Laut Iran menyatakan telah menguasai sepenuhnya perairan kawasan.
Iran sendiri belum menutup jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut, namun telah menargetkan beberapa kapal tanker minyak yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan rezim Israel.
Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan agresi militer tanpa provokasi terhadap Republik Islam Iran pada Sabtu lalu, yang menyebabkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior.
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melaksanakan beberapa gelombang operasi balasan terhadap lokasi militer Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan militer Amerika di kawasan, menggunakan rudal canggih dan drone tempur.
Menurut laporan media, harga minyak Amerika melonjak 28 persen pekan ini hingga melampaui 86 dolar per barel, setelah serangan balasan Iran terhadap kapal tanker minyak yang terkait dengan Amerika dan Israel hampir menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Selat sempit tersebut merupakan satu-satunya jalur pelayaran keluar-masuk Teluk Persia.
Menurut perusahaan konsultan energi Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak mentah melewati jalur ini setiap hari pada tahun 2025, atau sekitar sepertiga dari seluruh ekspor minyak dunia melalui jalur laut.
Sebelumnya pada Kamis, dalam sebuah wawancara televisi, juru bicara angkatan bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi menegaskan bahwa Iran belum menutup Selat Hormuz.
Ia mengatakan angkatan laut Iran tidak akan menghalangi kapal mana pun yang melintas di jalur strategis tersebut, namun kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan rezim Israel “pasti akan diserang.”
IRGC pada Senin lalu juga menyatakan bahwa dua drone Iran telah menghantam kapal tanker bahan bakar Athens Nova, yang bersekutu dengan Amerika, sehingga terbakar di perairan Selat Hormuz sebagai respons terhadap agresi Amerika–Israel.
Sementara itu, pemerintahan Trump menolak memberikan kepastian kapan Selat Hormuz akan kembali aman bagi pelayaran komersial. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan jawaban yang tidak pasti ketika ditanya wartawan pada Rabu.
“Saya tidak ingin berkomitmen pada jadwal tertentu, tetapi ini jelas sedang dihitung secara aktif oleh Departemen Perang dan Departemen Energi,” ujarnya.