Pakar dari 30 Negara Nyatakan 6 Syarat Tak Bisa Ditawar untuk Mengakhiri Perang AS terhadap Iran
Story Code : 1274343
Dokumen yang diberi judul “Deklarasi untuk Hati Nurani Kemanusiaan” tersebut ditandatangani oleh 170 tokoh lintas negara, termasuk mantan pejabat PBB, diplomat senior purnatugas, mantan menteri, akademisi, intelektual, tokoh politik, profesional militer dan keamanan, seniman, pengacara, jurnalis, serta aktivis sosial dan anti-perang dari 30 negara.
Para penandatangan mengkritik tajam peran global Amerika Serikat dan menyerukan pembentukan tatanan internasional baru yang berlandaskan kedaulatan serta perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai dominasi Barat.
Menurut isi dokumen, hati nurani kemanusiaan menolak gagasan “semuanya untuk kami, tidak untuk yang lain,” yang disebut sebagai doktrin imperium predator yang dibangun di atas kehancuran bangsa-bangsa lain.
Merujuk pada kebijakan agresif presiden AS saat ini dan ancaman berulang terhadap Iran, surat tersebut menyatakan bahwa ancaman Donald Trump mencerminkan “jiwa bobrok dari peradaban yang membusuk,” serta menyebut bahwa “keruntuhan moral Barat menemukan perwujudannya dalam sosok menyedihkan Tuan Trump.”
Dokumen itu juga menuduh Washington melancarkan perang secara ilegal di Vietnam, Kamboja, dan Korea, serta melakukan invasi ke Irak, Libya, Suriah, Afghanistan, dan kini Iran.
Berikut inti deklarasi yang telah dirilis secara publik dalam lebih dari sepuluh bahasa:
Deklarasi untuk Hati Nurani Kemanusiaan
Ditujukan kepada masyarakat dunia, para pemikir, akademisi, dan semua yang memperjuangkan keadilan:
Sebuah ancaman kini menghantui hati nurani kemanusiaan—kembalinya kekuatan predator—dan hal ini tidak boleh lagi dibiarkan tanpa perlawanan.
Selama 249 tahun sejak berdiri pada 1776, Amerika Serikat disebut telah membangun catatan kekejaman yang mencerminkan era kelam sebelum peradaban modern, mulai dari genosida terhadap jutaan penduduk asli, perbudakan jutaan orang Afrika, hingga kekerasan rasial sistematis.
Dengan lebih dari 800 pangkalan militer di lebih dari 90 negara dan wilayah, AS disebut mengembangkan doktrin dominasi absolut. Konflik di Vietnam, Kamboja, Korea, serta kehancuran di Irak, Libya, Suriah, dan Afghanistan disebut sebagai bagian dari pola tersebut.
Dokumen ini juga menyoroti situasi di Gaza, yang disebut sebagai bukti kembalinya praktik brutal, dengan tuduhan dukungan berkelanjutan AS terhadap Israel.
Lebih lanjut, Iran digambarkan sebagai target strategis karena kekayaan sumber daya alamnya, termasuk lebih dari 7% cadangan energi dan mineral dunia.
Deklarasi tersebut juga menuduh adanya operasi militer yang disebut sebagai “Perang Ramadan” terhadap Iran, yang diklaim telah menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak.
Selain itu, disebutkan adanya upaya perubahan rezim, fragmentasi negara, serta serangan terhadap pejabat dan tokoh penting Iran.
Enam Syarat Mengakhiri Perang (Tidak Dapat Ditawar)
Dari perspektif keadilan global, deklarasi ini menetapkan enam syarat utama:
Jaminan tidak terulangnya agresi serta komitmen internasional yang mengikat.
Pembongkaran segera seluruh instalasi militer AS di kawasan.
Pengakuan resmi atas agresi, kecaman internasional terhadap pelaku, serta kompensasi penuh atas kerugian jiwa dan harta.
Penghentian segera perang di seluruh front kawasan.
Pembentukan rezim hukum baru untuk Selat Hormuz yang mengakui kedaulatan Iran.
Penuntutan dan ekstradisi pihak-pihak media anti-Iran yang dianggap memicu konflik.
Seruan Global
Para penandatangan juga menyerukan kepada masyarakat dunia untuk:
Mengecam Amerika Serikat secara tegas atas pelanggaran terhadap hukum internasional.
Mengisolasi AS secara diplomatik dan ekonomi.
Mengakui hak Iran untuk melakukan pertahanan aktif.
Menuntut penghentian segera tindakan yang disebut sebagai terorisme yang didukung AS.
Deklarasi ditutup dengan penegasan bahwa sejarah akan mencatat keberanian mereka yang menolak untuk diam, serta menyerukan terbentuknya dunia baru yang menjunjung keadilan dan mengakhiri dominasi global. [IT/G]