0
Wednesday 15 April 2026 - 04:28
Inggris - AS & Zionis Israel vs Iran:

Menteri Keuangan Inggris Mengecam Perang AS-Israel di Iran sebagai 'Kebodohan'

Story Code : 1274717
The United Kingdom Chancellor Rachel Reeves , criticism of the ongoing US-Israeli war on Iran.jpg
The United Kingdom Chancellor Rachel Reeves , criticism of the ongoing US-Israeli war on Iran.jpg
Inggris telah mempertajam kritiknya terhadap perang AS-Zionis Israel yang sedang berlangsung di Iran, dengan Menteri Keuangan Rachel Reeves menggambarkan perang tersebut sebagai "kebodohan" dan mempertanyakan pendekatan strategis Washington.
 
Berbicara kepada Daily Mirror pada hari Selasa, Reeves mengklaim bahwa meskipun "tidak ada orang waras" yang mendukung pemerintah Iran, cara perang tersebut dilakukan menimbulkan kekhawatiran serius, terutama mengenai tidak adanya tujuan yang jelas.
 
“Ini adalah perang yang tidak kita mulai. Ini adalah perang yang tidak kita inginkan. Saya merasa sangat frustrasi dan marah karena AS memasuki perang ini tanpa rencana keluar yang jelas, tanpa gagasan yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai,” katanya kepada Daily Mirror.
 
Dia selanjutnya mengkritik keputusan untuk terlibat dalam perang tanpa jalur penyelesaian yang jelas, memperingatkan konsekuensi yang lebih luas di luar medan perang. “Memulai konflik tanpa kejelasan mengenai tujuan dan bagaimana cara keluar dari konflik tersebut, saya rasa itu adalah sebuah kesalahan dan hal ini berdampak pada keluarga di Inggris, serta keluarga di AS dan di seluruh dunia.”
 
Ketegangan transatlantik semakin dalam
Pernyataan beliau muncul di tengah semakin lebarnya keretakan antara London dan Washington terkait perang tersebut. Para pejabat Inggris mengatakan agresi tanpa provokasi tersebut “tidak diragukan lagi telah memperburuk” hubungan dengan Amerika Serikat, sementara Perdana Menteri Keir Starmer menolak untuk bergabung dalam kampanye melawan Iran dan usulan blokade Selat Hormuz yang dipimpin AS, menekankan bahwa Inggris “tidak akan terseret” ke dalam perang tersebut.
 
Perbedaan ini diperparah oleh ketegangan antara Starmer dan Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka mengkritik pemimpin Inggris tersebut dan menekan sekutu untuk ikut serta dalam perang. Menteri Kesehatan Inggris, Wes Streeting, pada gilirannya, menggambarkan retorika Trump sebagai "menghasut, provokatif, dan keterlaluan," yang mencerminkan meningkatnya ketidaknyamanan di dalam pemerintahan atas arah kebijakan AS.
 
Pada saat yang sama, sentimen publik di Inggris tampaknya bergeser tajam. Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas warga Inggris sekarang memandang Amerika Serikat sebagai kekuatan global yang negatif, dengan kepercayaan pada Washington sebagai sekutu yang dapat diandalkan menurun secara signifikan sejak eskalasi perang.
 
Reaksi politik dan publik telah memicu debat yang lebih luas di Inggris tentang masa depan aliansi transatlantik. Tokoh-tokoh senior telah memperingatkan bahwa perang di Iran merupakan titik balik, dengan beberapa pihak menyerukan penilaian ulang terhadap "hubungan khusus" yang telah lama ada dan mendesak keselarasan yang lebih erat dengan mitra-mitra Eropa.[IT/r]
 
Comment