0
Sunday 19 April 2026 - 15:54
Perang Iran

Iran Kecam ‘Kemunafikan Puncak’ Uni Eropa, Tolak Klaim soal Selat Hormuz dalam Hukum Internasional

Story Code : 1275517
Iran Kecam ‘Kemunafikan Puncak’ Uni Eropa, Tolak Klaim soal Selat Hormuz dalam Hukum Internasional
“Oh, ‘hukum internasional’ itu? Yang digunakan Uni Eropa untuk menceramahi satu pihak sambil diam-diam mendukung perang agresi AS-Israel—dan menutup mata terhadap kekejaman terhadap rakyat Iran? Hentikan ceramah itu; kegagalan kronis Eropa dalam mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan telah menjadikan pembicaraan mereka tentang ‘hukum internasional’ sebagai kemunafikan puncak,” kata Baqaei dalam unggahan di X pada Minggu, menanggapi pernyataan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa.

Dalam pernyataannya, pejabat tinggi Uni Eropa tersebut menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka sesuai hukum internasional dan meminta Iran untuk “menghentikan rencana apa pun untuk mengenakan biaya transit.”

“Tidak ada aturan hukum internasional yang melarang Iran, sebagai negara pesisir, untuk mengambil langkah yang diperlukan guna mencegah Selat Hormuz digunakan untuk melancarkan agresi militer terhadap Iran,” ujar Baqaei, seraya menyalahkan perang AS-Israel terhadap Iran sebagai penyebab situasi saat ini di selat tersebut.

“Dan ‘hak lintas transit tanpa syarat’ di Hormuz? Itu sudah tidak relevan sejak agresi AS-Israel membawa aset militer AS ke sekitar wilayah selat tersebut.”

Iran mengambil alih kendali Selat Hormuz pada awal konflik yang dimulai 28 Februari sebagai bagian dari respons terhadap serangan AS-Israel, dengan melarang kapal milik pihak lawan dan negara yang membantu mereka melintas.

Pada 8 April, gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan mulai berlaku antara Iran dan Amerika Serikat untuk membuka ruang negosiasi, termasuk upaya membuka kembali selat tersebut. Namun, sehari setelahnya, Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Iran menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan merespons dengan tetap memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi global. [IT/G]
Comment