Jajak Pendapat IRIB: Mayoritas Besar Warga Iran Menolak Pembatasan Rudal, Uranium, dan Kendali Selat Hormuz
Story Code : 1276207
Vast majority of Iranians reject curbs on missiles, uranium, and Strait of Hormuz control
Survei tersebut, yang melibatkan ribuan warga Iran di seluruh negeri selama dan segera setelah perang, menemukan bahwa mayoritas responden menyatakan Iran tidak seharusnya menerima tuntutan maksimalis AS untuk mencapai kesepakatan dan mengakhiri perang secara permanen.
Mayoritas besar warga Iran percaya bahwa negara tidak boleh menerima kesepakatan apa pun yang akan membatasi industri rudalnya, mengharuskan penghapusan 400 kilogram uranium yang diperkaya, mewajibkan penghentian pengayaan uranium, mengizinkan lalu lintas kapal tanpa batas melalui Selat Hormuz, atau menuntut penghentian kerja sama dengan Front Perlawanan.
Perang yang tidak diprovokasi tersebut dimulai pada 28 Februari dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, para komandan militer tingkat tinggi, serta warga sipil, termasuk hampir 170 anak sekolah di kota Minab, Iran selatan.
Agresi tersebut, yang dilancarkan untuk melumpuhkan kepemimpinan Iran dan melemahkan kemampuan pertahanan negara, justru memperlihatkan rapuhnya proyeksi kekuatan Amerika ketika berhadapan dengan teknologi militer Iran yang canggih dan front persatuan Poros Perlawanan.
Setelah 40 hari agresi, Amerika Serikat menerima proposal komprehensif 10 poin Iran sebagai dasar gencatan senjata permanen, yang kemudian mengarah pada pembicaraan di Islamabad.
Meskipun AS akhirnya melanggar gencatan senjata, yang menyebabkan kebuntuan dalam perundingan, Iran menyatakan bahwa dinamika telah berubah dan kini justru AS yang harus memberikan konsesi.
Penolakan terhadap konsesi pada program rudal dan hak nuklir
Terkait syarat potensial untuk mengakhiri perang secara permanen, responden survei menyampaikan pesan ketahanan dan penolakan yang jelas.
Hasilnya tegas:
85,7 persen mengatakan Iran tidak boleh menerima pembatasan pada industri rudal.
82,6 persen menolak penghapusan 400 kilogram uranium yang diperkaya.
79,4 persen menolak penghentian pengayaan uranium.
73,7 persen menolak akses bebas kapal melalui Selat Hormuz.
68,1 persen menolak penghentian kerja sama dengan Front Perlawanan.
Para analis menyebut temuan ini sebagai bukti “kematangan strategis” dalam masyarakat Iran setelah perang agresi tersebut.
Alih-alih mencari “perdamaian dengan harga apa pun,” masyarakat menunjukkan bahwa kekuatan nasional adalah simbol kehormatan dan kemerdekaan.
Publik menilai AS lebih membutuhkan gencatan senjata
Sebanyak 57,5 persen responden menyatakan AS lebih membutuhkan gencatan senjata, hanya 9,8 persen yang mengatakan Iran lebih membutuhkan, dan 29 persen menyatakan keduanya.
Hal ini menunjukkan dominasi persepsi bahwa Iran memiliki posisi tawar yang kuat.
Dua pertiga menganggap Iran menang
Sebanyak 66 persen responden percaya Iran adalah pemenang perang 40 hari tersebut.
Ini menunjukkan ketahanan opini publik terhadap propaganda dan operasi psikologis pihak lawan.
Kepercayaan tinggi terhadap militer
Sebanyak 87,2 persen responden menilai kinerja militer Iran dalam mempertahankan negara sebagai “kuat” atau “sangat kuat.”
Hampir setengah (47 persen) menilai “sangat kuat.”
Lebih dari separuh masyarakat turun ke jalan
Sebanyak 45,7 persen berpartisipasi aktif dalam aksi publik, dengan tambahan 13,2 persen ikut setidaknya sekali atau dua kali.
Ini mencerminkan solidaritas nasional yang tinggi dan kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman.
Keyakinan akan masa depan yang lebih baik
Sebanyak 71,7 persen percaya masa depan Iran setelah perang akan lebih baik, sementara hanya 13,5 persen yang pesimis.
Ini menunjukkan optimisme strategis yang kuat di tengah tekanan.
Gencatan senjata bukan akhir kewaspadaan
Sebanyak 67,8 persen tetap menilai penting untuk melanjutkan kehadiran publik bahkan setelah gencatan senjata.
Ini menunjukkan transformasi dari reaksi emosional menjadi tindakan pencegahan strategis.
Kinerja pemerintah dalam ekonomi dinilai positif
Sebanyak 80,1 persen responden menilai kinerja pemerintah dalam menjaga distribusi kebutuhan pokok sebagai “tepat” atau “sangat tepat.”
Hal ini menunjukkan stabilitas ekonomi relatif selama masa konflik.
Invalidasi permanen narasi “keruntuhan internal”
Secara keseluruhan, survei menggambarkan masyarakat Iran sebagai bangsa yang tangguh dan semakin kuat setelah konflik.
Temuan ini menunjukkan bahwa “keruntuhan internal” tidak lagi menjadi skenario yang realistis.
Para ahli menilai bahwa “deterrence sosial” kini menjadi lapisan kedua kekuatan nasional Iran setelah kemampuan militernya.
Fondasi kekuatan Iran, menurut laporan tersebut, tidak hanya terletak pada infrastruktur fisik, tetapi pada keyakinan kolektif, ketahanan strategis, dan harapan masyarakatnya.[IT/r]