CIA Akui Iran Mampu Bertahan dari Blokade Berbulan-bulan dan Masih Memiliki 70 Persen Rudalnya
Story Code : 1279213
Menurut laporan The Washington Post pada Sabtu, analisis terbaru CIA menunjukkan Iran lebih tangguh dari perkiraan dan dapat bertahan menghadapi tekanan ekonomi akibat blokade hingga akhir tahun ini.
Laporan rahasia tersebut disampaikan kepada pejabat pemerintahan Trump awal pekan ini, kata empat sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut kepada The Washington Post.
Salah satu sumber menyebut Iran menyimpan sebagian minyaknya dalam penyimpanan terapung di kapal tanker dan mengurangi aliran produksi di ladang minyak, sehingga sumur minyak tetap dapat beroperasi.
“Kondisinya tidak separah yang diklaim sebagian pihak,” ujar sumber tersebut mengenai situasi ekonomi Iran.
Iran juga disebut masih mampu menjual minyak melalui jalur darat menggunakan truk dan kereta api, yang membantu menopang perekonomiannya.
“Ada keyakinan mereka dapat mulai memindahkan sebagian minyak melalui jalur kereta api melewati Asia Tengah,” kata seorang pejabat.
CIA memperkirakan Iran dapat bertahan antara 90 hingga 120 hari, bahkan mungkin lebih lama, sebelum menghadapi kesulitan ekonomi yang lebih serius.
Analisis tersebut memperkuat laporan The Independent bulan lalu yang menyebut Iran memiliki cadangan minyak mentah untuk China selama sekitar 120 hari.
Analisis tertanggal 15 April itu memprediksi Iran tidak akan terdampak signifikan oleh blokade dalam waktu dekat karena “volume besar minyak yang sudah berada di laut,” kata analis senior minyak mentah Kpler, Johannes Rauball, kepada The Independent saat itu.
Iran juga disebut masih memiliki 75 persen persediaan peluncur bergerak sebelum perang dan sekitar 70 persen stok rudal serta drone sebelum perang, menurut seorang pejabat AS.
Temuan intelijen ini bertolak belakang dengan pernyataan Trump mengenai cepat menipisnya persediaan senjata Iran.
Agresi gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang menewaskan pejabat dan komandan senior Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Pasukan bersenjata Iran kemudian membalas dengan meluncurkan operasi rudal dan drone harian yang menargetkan wilayah pendudukan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan.
Iran juga membalas serangan tersebut dengan menutup Selat Hormuz, yang memicu lonjakan signifikan harga minyak dan turunannya.
Pada 8 April, tepat 40 hari sejak perang dimulai, gencatan senjata sementara antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Perundingan kemudian berlangsung di Islamabad, namun gagal mencapai kesepakatan akibat tuntutan maksimalis Washington dan sikap yang dinilai tidak masuk akal.
Sejak saat itu, Iran secara tegas menolak kembali ke meja perundingan kecuali AS mencabut blokade ilegal terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Teheran juga menegaskan bahwa selama blokade masih berlaku, Iran tidak berniat membuka kembali Selat Hormuz. [IT/G]