Trump: Tanggapan Iran terhadap Syarat Perdamaian AS ‘Sama Sekali Tidak Dapat Diterima’
Story Code : 1279503
US President Donald Trump, Iran’s response to Washington for ending the war 'totally unacceptable'
Tehran telah menyampaikan usulan balasan terhadap syarat-syarat Washington untuk mengakhiri perang melalui perantara Pakistan.
Rincian tanggapan Iran tersebut belum dipublikasikan, namun menurut laporan media AS, usulan balasan Tehran berfokus pada pengakhiran perang dan pengamanan jaminan bahwa permusuhan tidak akan berlanjut kembali, sembari tidak menawarkan satu pun konsesi nuklir yang diinginkan oleh Washington.
"Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump di Truth Social pada hari Minggu (10/5). Sebelumnya, ia mengatakan kepada Axios bahwa balasan Iran tersebut "tidak pantas," namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Menurut AP, tanggapan Iran tersebut diduga menuntut pengakhiran permusuhan yang lebih luas di berbagai front, termasuk di Lebanon, *sebelum* pembukaan kembali Selat Hormuz dan dilanjutkannya pembicaraan nuklir. Namun, Trump terus menuntut pembatasan segera terhadap program nuklir Iran dan berulang kali mengancam akan melanjutkan tindakan militer berskala besar jika Tehran menolak untuk menerima syarat-syarat AS.
Trump telah berulang kali memperpanjang gencatan senjata, dengan alasan bahwa kepemimpinan Iran sedang terpecah belah dan tidak mampu menghasilkan tanggapan yang satu suara. Namun, para pejabat Iran secara terbuka menolak syarat-syarat Washington tersebut sebagai sebuah ultimatum, seraya menuduh AS berusaha mengubah negosiasi menjadi pembicaraan mengenai penyerahan diri setelah gagal mencapai tujuan-tujuan yang dicanangkan di medan perang.
Tehran juga telah menegaskan bahwa mereka memandang kendali atas Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar yang sentral; Mohammad Mokhber, seorang penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, bahkan menyamakan nilai strategis jalur perairan tersebut dengan sebuah "bom atom" dan bersumpah bahwa Iran tidak akan "menyia-nyiakan hasil pencapaian dari perang ini."
Pertukaran pesan terbaru ini terjadi setelah berminggu-minggu berlangsungnya diplomasi yang rapuh serta bentrokan yang terjadi secara sporadis di sekitar Selat Hormuz, di mana AS telah menerapkan blokade angkatan laut sementara Iran berupaya menegaskan kendalinya atas jalur perairan yang strategis tersebut.
Para pejabat AS sempat berharap bahwa tanggapan Iran yang telah lama dinanti-nanti akan menunjukkan kemajuan setelah mengalami penundaan selama 10 hari, demikian dilaporkan oleh Axios. Namun, seorang sumber dari Iran menepis ketidakpuasan Trump, dengan menyatakan kepada Tasnim bahwa proposal Tehran bertujuan untuk melindungi hak-hak Iran, alih-alih sekadar menyenangkan Presiden Amerika tersebut.
Kemunduran diplomatik ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait kemungkinan keterlibatan negara-negara Eropa di kawasan Teluk. Prancis dan Inggris tengah mendiskusikan pembentukan misi multinasional guna menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz, sementara Tehran telah memperingatkan bahwa pengerahan pasukan semacam itu akan memicu respons seketika.[IT/r]