Iran Menuntut Diakhirinya Pengepungan sebagai Tanggapan atas Usulan AS
Story Code : 1279505
A man holds an Iranian flag for a demonstration in downtown Tehran, Iran
Tanggapan Iran terhadap usulan terbaru AS mencakup tuntutan untuk segera mengakhiri pengepungan ekonomi yang diberlakukan terhadap Republik Islam tersebut, di samping jaminan yang memastikan kebebasan bagi ekspor minyak Iran, demikian disampaikan sumber-sumber diplomatik .
Menurut sumber-sumber tersebut, tanggapan tertulis Tehran—yang disampaikan melalui mediator Pakistan—menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Washington harus mencakup penghentian perang secara langsung segera setelah kesepakatan itu diumumkan.
Iran juga menegaskan kembali tuntutan pencabutan sanksi AS, pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta penghapusan pembatasan yang diberlakukan oleh Kantor Pengendalian Aset Luar Negeri AS (OFAC) yang menargetkan penjualan minyak Iran.
Sumber-sumber tersebut menyatakan bahwa Teheran memandang kampanye tekanan ekonomi ini sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari eskalasi militer dan politik AS yang lebih luas di kawasan tersebut.
Gencatan senjata di Lebanon disertakan dalam tanggapan Iran
Sumber-sumber diplomatik mengatakan bahwa tanggapan Iran juga mencakup klausul terkait gencatan senjata di Lebanon, yang digambarkan sebagai salah satu "garis merah" Tehran selama negosiasi berlangsung.
Menurut sumber-sumber tersebut, Iran mengaitkan sebagian dari kesepahaman yang diusulkan dengan jaminan terkait penghentian eskalasi di Lebanon, di tengah berlanjutnya agresi Zionis Israel terhadap negara tersebut serta konfrontasi yang sedang berlangsung dengan Perlawanan Lebanon.
Penyertaan isu Lebanon dalam negosiasi ini mencerminkan keteguhan sikap Teheran bahwa front-front regional tidak dapat dipisahkan dari pengaturan politik dan militer yang lebih luas, yang melibatkan Amerika Serikat dan pihak pendudukan Zionis Israel.
Para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan bahwa stabilitas di kawasan tersebut menuntut diakhirinya serangan dan pelanggaran yang dilakukan Israel di berbagai front.
Hormuz dan sanksi menjadi inti negosiasi
Sumber-sumber tersebut juga menyampaikan kepada *Al Mayadeen* bahwa tanggapan Iran memuat ketentuan-ketentuan terkait pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran dalam kerangka kesepahaman yang diusulkan.
Teheran semakin menegaskan perannya dalam mengatur keamanan maritim di jalur perairan strategis tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan kian maraknya aktivitas angkatan laut Barat di kawasan Teluk. Iran juga menekankan pembatalan pembatasan OFAC yang terkait dengan ekspor energi Iran, menempatkan penjualan minyak tanpa pembatasan sebagai komponen inti dari setiap kesepakatan di masa depan.
Para pejabat Iran secara konsisten berargumen bahwa sanksi merupakan bentuk perang ekonomi yang menargetkan kedaulatan negara serta kemerdekaan regionalnya.
Pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan terus berlanjut dalam format tertulis.
Menurut sumber-sumber diplomatik, rancangan kesepakatan tersebut akan menetapkan masa negosiasi selama 30 hari setelah berakhirnya perang, guna merampungkan rincian-rincian yang masih tersisa.
Iran juga mengusulkan langkah-langkah timbal balik yang bertujuan untuk menguji keseriusan Washington terkait pelaksanaan komitmen dan jaminan.
Sumber-sumber tersebut membenarkan bahwa negosiasi antara Teheran dan Washington untuk saat ini akan terus berlanjut dalam bentuk tertulis melalui saluran mediasi Pakistan.
Pakistan telah memainkan peran perantara yang sentral selama eskalasi regional yang terjadi baru-baru ini, dengan memfasilitasi komunikasi tidak langsung di antara kedua belah pihak.[IT/r]