Aramco: Blokade Selat Hormuz Menyebabkan 880 Juta Barel Pasokan Tak Tergantikan
Story Code : 1279641
Oil tankers and ships line up in the Strait of Hormuz
Sekitar 880 juta barel hidrokarbon cair telah hilang secara permanen dari pasar global, ujar CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyusul agresi AS terhadap Iran dan blokade Selat Hormuz.
Berdasarkan presentasi yang dipublikasikan pada hari Senin, perang terhadap Iran telah menghilangkan total 1,442 miliar barel dari pasar minyak global. Sebagian dari kekurangan pasokan tersebut berhasil diatasi melalui pengalihan rute ekspor, penggunaan cadangan stok, dan langkah-langkah darurat lainnya.
Saudi Aramco meningkatkan pengiriman melalui pipa saluran Timur-Barat hingga mencapai kapasitas produksi maksimumnya, yakni 7 juta barel per hari. Meskipun upaya-upaya tersebut telah dilakukan, presentasi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 880 juta barel pasokan tetap tidak tergantikan.
Pemulihan Pasar Minyak Mungkin Membutuhkan Waktu Berbulan-bulan
Lebih lanjut, Nasser mengatakan bahwa produksi minyak di luar kawasan Teluk belum mengalami peningkatan meskipun harga minyak sedang naik, hal yang membatasi kemampuan pasar untuk mengompensasi pasokan yang hilang.
Ia menambahkan bahwa, bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali, pasar minyak global akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk kembali mencapai keseimbangan. Jika Selat tersebut tetap ditutup selama enam hingga delapan minggu ke depan, ujarnya, pemulihan pasar minyak global dapat tertunda hingga tahun depan.
Hilangnya pasokan hampir satu miliar barel secara tiba-tiba telah mendorong harga minyak melampaui angka $100 per barel dan memicu tekanan inflasi di seluruh dunia, sebagai dampak dari agresi Israel-AS terhadap Iran.
Minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 3% hingga menembus angka $104 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS juga mencatat kenaikan yang signifikan, mencerminkan meningkatnya kecemasan pasar terkait ketidakstabilan yang berkepanjangan di kawasan Asia Barat.
Sementara itu, bank investasi Morgan Stanley telah memperingatkan bahwa pasar minyak global sedang memasuki "perlombaan melawan waktu," karena faktor-faktor yang selama ini mencegah harga minyak melonjak lebih tinggi lagi mungkin tidak akan mampu bertahan jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga bulan Juni—mengingat hampir satu miliar barel pasokan telah hilang sejak perang AS-Zionis Israel terhadap Iran dimulai.[IT/r]