Laporan: UEA Desak Negara-Negara Teluk Gelar Aksi Militer Terhadap Iran
Story Code : 1280329
UEA force
Uni Emirat Arab dilaporkan berupaya membujuk negara-negara Teluk—termasuk Arab Saudi dan Qatar—untuk berpartisipasi dalam respons militer terkoordinasi terhadap Iran menyusul dimulainya serangan militer AS dan Israel terhadap Republik Islam tersebut.
Menurut laporan *Bloomberg*, Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan melakukan panggilan telepon mendesak dengan para pemimpin regional tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa MBZ meyakini negara-negara Teluk memerlukan respons militer yang terpadu setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap instalasi militer AS dan infrastruktur yang digunakan untuk menyerang Iran di wilayah mereka.
Menurut sebuah sumber yang dikutip oleh *Bloomberg*, kepemimpinan UEA dengan cepat menyelaraskan diri dengan Washington dan Israel selama berlangsungnya konfrontasi tersebut.
Arab Saudi dan Qatar Menolak Eskalasi
Meskipun mendapat tekanan dari Abu Dhabi, beberapa negara Teluk dilaporkan menolak untuk bergabung dalam agresi militer terkoordinasi terhadap Iran.
Menurut *Bloomberg*, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan para pemimpin Teluk lainnya berargumen bahwa perang tersebut bukanlah urusan mereka.
Penolakan tersebut dilaporkan memperdalam ketegangan antara UEA dan Arab Saudi, yang hubungannya memang telah memburuk akibat persaingan ekonomi serta perbedaan pandangan terkait situasi di Yaman dan Sudan.
Selama diskusi dengan para pemimpin Teluk, MBZ dilaporkan mengingatkan rekan-rekan sejawatnya bahwa Dewan Kerja Sama Teluk (*Gulf Cooperation Council*) pada awalnya dibentuk pada tahun 1981, sebagian sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai dampak pasca-Revolusi Islam Iran.
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa Bahrain, Kuwait, dan Oman menolak untuk bergabung dalam eskalasi militer terhadap Iran, sementara Qatar pada akhirnya memprioritaskan upaya mediasi dan de-eskalasi.
Doha dilaporkan sempat mempertimbangkan tindakan balasan setelah Iran menyerang Ras Laffan—salah satu fasilitas gas alam cair (LNG) terbesar di dunia—sebelum akhirnya mengurungkan niat untuk mengambil tindakan langsung.
Abu Dhabi Memperdalam Koordinasi Militer dengan Rezim Zionis Israel
*Bloomberg* mencatat bahwa UEA dan Israel memperluas koordinasi militer dan intelijen selama berlangsungnya perang tersebut.
Menurut sumber-sumber yang dikutip oleh *Bloomberg*, kedua belah pihak bekerja sama dalam hal pertukaran informasi intelijen, upaya intersepsi, serta koordinasi terkait penentuan target serangan di wilayah Iran. "Israel" dilaporkan telah memindahkan sistem pertahanan udara beserta personelnya ke UEA selama masa konfrontasi tersebut.
Sebuah percakapan telepon antara MBZ dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga telah diakui secara terbuka oleh kedua pemerintah pada awal bulan ini.
UEA—yang menormalisasi hubungannya dengan rezim Israel di bawah kesepakatan normalisasi yang diprakarsai AS pada tahun 2020—dilaporkan memandang dirinya sebagai negara Teluk yang paling gencar menjadi sasaran serangan selama perang berlangsung.
Bloomberg melaporkan bahwa Iran meluncurkan hampir 3.000 drone dan rudal ke arah UEA sebelum gencatan senjata yang rapuh akhirnya berlaku pada bulan April.
Serangan-serangan Iran menyingkap keretakan dalam aliansi negara-negara Teluk.
Perang melawan Iran menyingkap adanya perpecahan strategis yang signifikan di antara ibu kota-ibu kota negara Teluk, termasuk terkait cara mengelola hubungan dengan Washington dan "Zionis Israel".
Sementara UEA dilaporkan lebih condong pada koordinasi militer langsung bersama AS dan pihak pendudukan Israel, pemerintah negara-negara Teluk lainnya justru mengkhawatirkan terjadinya eskalasi regional yang lebih luas serta potensi keruntuhan ekonomi.
Arab Saudi dilaporkan beralih mendukung upaya mediasi diplomatik yang melibatkan Pakistan, setelah sebelumnya sempat melancarkan serangan terbatas terhadap Iran pada bulan Maret.
Menurut laporan tersebut, Abu Dhabi belakangan menyatakan rasa frustrasinya karena merasa tidak dilibatkan secara memadai dalam konsultasi mengenai inisiatif mediasi yang dipimpin Pakistan antara Tehran dan Washington.
Ketegangan-ketegangan tersebut terjadi berbarengan dengan keputusan UEA untuk menarik diri dari OPEC pada akhir April—sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai cerminan dari perselisihan politik dan ekonomi yang lebih mendalam dengan Arab Saudi.[IT/r]