IRGC Tuntut Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Tolak Gencatan Senjata yang Tidak Mencakup Semua Front
Story Code : 1283915
Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis, IRGC menegaskan bahwa bangsa-bangsa di kawasan tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon di tengah berlanjutnya serangan Israel di Lebanon selatan dan wilayah dekat Beirut.
“Musuh harus segera menghentikan serangannya terhadap rakyat Lebanon, dan segera mundur ke perbatasan internasional dengan mengosongkan wilayah Lebanon yang diduduki, serta mengakui integritas teritorial Lebanon,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC menyebut Lebanon sebagai “tanah kehormatan dan martabat” yang saat ini berada di bawah “serangan brutal rezim Zionis perampas.”
Pernyataan itu juga menyebut bahwa berbagai kecaman dari organisasi internasional, negara-negara, dan masyarakat dunia belum memberikan dampak terhadap perilaku para pemimpin Tel Aviv.
IRGC merujuk pada berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pernyataan Uni Eropa, serta kecaman dari negara-negara Arab dan mayoritas Muslim yang sejak 2 Maret menyerukan gencatan senjata di Lebanon.
Menurut IRGC, intervensi Amerika Serikat dengan dalih menciptakan perdamaian justru tidak menghasilkan apa pun selain peningkatan kejahatan dan pembantaian.
Amerika Serikat diketahui menjadi sekutu terdekat Israel selama agresi berlangsung, dengan memberikan bantuan militer serta dukungan diplomatik di Dewan Keamanan PBB.
IRGC menggambarkan militer Israel sebagai “pengecut dan tidak mampu,” serta menuduhnya menutupi kekalahan di medan perang dengan membunuh warga sipil dan menghancurkan rumah, rumah sakit, serta sekolah.
“Ini adalah rezim rasis yang, meskipun mendapat dukungan tanpa henti dari Amerika dan pemerintah Eropa sepanjang keberadaannya yang memalukan, bahkan tidak mampu memenangkan hati rakyat dari satu desa yang diduduki,” kata IRGC.
IRGC juga menegaskan bahwa bangsa-bangsa di kawasan tidak akan membiarkan rakyat Lebanon menghadapi agresi sendirian.
“Bangsa Lebanon adalah kebanggaan umat Islam dan simbol kehormatan bagi bangsa-bangsa di kawasan. Kami akan mendukung mereka sepenuhnya, dan tidak akan ada ketenangan di kawasan tanpa penarikan pasukan dari wilayah Lebanon yang diduduki,” tambah pernyataan tersebut.
Pernyataan ini juga ditujukan kepada pemerintah Arab dan kelompok non-negara. Meskipun beberapa negara Arab telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords pada 2020, dukungan publik di kawasan tetap kuat bagi Lebanon dan Hizbullah.
IRGC menambahkan bahwa rakyat Lebanon tidak akan membiarkan rezim Israel mencapai melalui kesepakatan yang dipaksakan—dengan dukungan Amerika Serikat—apa yang gagal diraih melalui perang.
Istilah “kesepakatan yang dipaksakan” merujuk pada negosiasi gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon yang didukung Barat, yang dilaporkan mencakup penarikan Hizbullah dari wilayah selatan Sungai Litani.
IRGC kembali menegaskan bahwa syarat utama untuk menerima gencatan senjata dalam konflik regional adalah pemberlakuan gencatan senjata di semua front, termasuk Lebanon.
Pernyataan tersebut muncul setelah Iran sebelumnya mengeluarkan ultimatum langsung kepada Israel pada awal pekan ini, dengan memperingatkan bahwa Teheran akan membatalkan gencatan senjatanya dengan Washington dan masuk ke dalam konflik jika Israel melanjutkan rencana pengeboman di distrik Dahiyeh, Beirut.
Peringatan Iran dilaporkan mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memintanya menghentikan agresi serta menarik pasukan yang disebut sedang menuju Beirut.
Trump kemudian menulis di Truth Social bahwa tidak akan ada pasukan yang menuju Beirut dan bahwa setiap pasukan yang sudah bergerak telah diperintahkan untuk kembali.
Meski demikian, serangan Israel di Lebanon masih berlanjut, termasuk serangan di wilayah dekat ibu kota.
Kantor berita resmi Lebanon melaporkan bahwa sekitar 20 lokasi di selatan negara itu diserang pada Rabu. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi bagi enam desa dan kota di Lebanon selatan menjelang serangan udara.
Penduduk di wilayah tersebut diminta mengungsi ke utara Sungai Zahrani, sekitar 50 kilometer dari perbatasan Lebanon, yang menyebabkan puluhan ribu warga sipil bergerak ke arah utara. [IT/G]