Media: AS Ingin Mengirim Aset Iran yang Dibekukan ke Sekutu Teluk
Story Code : 1284339
Damaged sections and burned areas of the Ras Tanura oil refinery in Saudi Arabia
Tehran Menuntut Akses ke Dananya sebagai Bagian dari Kesepakatan Perdamaian Abadi dengan Washington
Departemen Keuangan berencana menggunakan “semua wewenang yang tersedia” untuk membuat aset Iran dapat diakses untuk upaya pembangunan kembali dan perbaikan yang terkait dengan kerusakan di masa depan yang disebabkan oleh Iran, CBS melaporkan pada hari Sabtun (6/6), mengutip sumber yang mengetahui pemikiran Menteri Keuangan Scott Bessent.
Bloomberg melaporkan bahwa Bessent mengarahkan para pejabat Departemen Keuangan untuk menilai kondisi di antara sekutu AS di Teluk Persia dan meminta perkiraan komprehensif untuk kerusakan yang ditimbulkan sejak awal konflik. Media tersebut mengatakan departemen juga akan mempertimbangkan apakah aset Iran dapat digunakan untuk menutupi “kerusakan masa lalu” yang disalahkan pada kelompok-kelompok yang didukung Iran.
Inisiatif ini muncul ketika pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Tehran terhenti karena tuntutan Iran untuk mengakses dana yang dibekukan. Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengatakan pada hari Jumat (5/6) bahwa kesepakatan tersebut bergantung pada pelepasan aset Iran senilai 24 miliar dolar AS.
“Ini uang kita sendiri, bukan uang Amerika,” kata Rezaei kepada CNN, menyebut tuntutan itu sebagai ujian kepercayaan bagi Presiden AS Donald Trump.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada Kantor Berita Mehr bahwa Tehran menginginkan setidaknya $12 miliar dilepaskan segera setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan AS, sementara sisanya harus dilepaskan dalam waktu “tidak lebih dari satu atau dua bulan”.
Sejak AS dan Zionis Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, kedua pihak sebagian besar menahan diri untuk tidak secara langsung menargetkan infrastruktur minyak dan gas. Namun, pada pertengahan Maret, Zionis Israel menyerang ladang gas alam terbesar di dunia di South Pars, melumpuhkan 12% produksi gas Iran.
Teheran menyatakan bahwa infrastruktur energi di negara-negara Teluk Arab yang menampung pasukan AS telah menjadi “target langsung dan sah.”
Fasilitas energi di Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain semuanya mengalami kerusakan akibat serangan balasan, sebelum gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada bulan April.
AS dilaporkan berjanji untuk membuka blokir beberapa aset Iran untuk membawa Tehran ke meja perundingan di Islamabad, meskipun secara terbuka menyebut tuntutan itu tidak dapat diterima.
Trump telah berulang kali mengkritik pendahulunya, Barack Obama, karena diduga mengirimkan miliaran dolar kepada Iran dalam bentuk "palet uang tunai" berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, yang secara sepihak ditarik oleh Trump selama masa jabatan pertamanya.[IT/r]