Qalibaf: Serangan Israel ke Beirut Menunjukkan AS Tak Miliki Kemauan atau Kemampuan untuk Penuhi Komitmen
Story Code : 1285894
Tak lama setelah pasukan Israel membombardir kawasan Dahiyeh di Beirut pada Minggu, Qalibaf memperingatkan Washington bahwa “melanjutkan jalur saat ini akan menjadi mustahil jika komitmen tidak dapat dipenuhi.”
“Dengan memberi lampu hijau kepada rezim itu, Anda tidak bisa mendapatkan konsesi,” tulis Qalibaf dalam sebuah unggahan di X, seraya memperingatkan Presiden AS Donald Trump terhadap pendekatan “polisi baik, polisi jahat” dalam perundingan dengan Teheran.
“Jika Anda tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk memenuhi komitmen Anda, maka tidak mungkin berbicara tentang melanjutkan jalur ini,” tambahnya, merujuk pada proses diplomatik untuk mengakhiri perang.
Pasukan Israel melancarkan serangan udara dan artileri ke sejumlah wilayah di distrik Dahiyeh, Beirut, pada Minggu, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai beberapa lainnya.
Media AS Axios melaporkan bahwa militer Israel memberi tahu Komando Pusat AS (CENTCOM) sesaat sebelum serangan tersebut.
Serangan itu terjadi ketika Washington dan Teheran semakin mendekati kesepakatan sementara setelah berbulan-bulan perundingan tidak langsung, dengan para pejabat Pakistan mengindikasikan bahwa teks final kesepakatan damai telah dicapai.
Iran telah menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon tidak dapat dipisahkan dari kesepakatan final apa pun dengan Amerika Serikat.
Setelah serangan ke Beirut, seorang komandan senior di markas pusat Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan bahwa kejahatan Tel Aviv di Dahiyeh tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
“Tanpa ragu, kejahatan-kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa jawaban,” kata Brigadir Jenderal Mohammad Jafar Asadi.
Pekan lalu, Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah pendudukan setelah pasukan Israel membombardir Dahiyeh, meskipun ada peringatan bahwa serangan semacam itu dapat memicu respons Iran dan membahayakan upaya diplomatik yang bertujuan mengakhiri perang. [IT/G]