0
Monday 6 July 2026 - 13:44
Iran - Inggris

Mantan Diplomat Inggris: Ayatollah Khamenei Pertahankan Kepemimpinan Bermoral dan Berprinsip di Tengah Ancaman Eksistensial

Story Code : 1290463
Mantan Diplomat Inggris: Ayatollah Khamenei Pertahankan Kepemimpinan Bermoral dan Berprinsip di Tengah Ancaman Eksistensial

Dalam sebuah wawancara dengan situs web Press TV, Craig Murray, mantan duta besar Inggris sekaligus seorang penulis, memberikan penghormatan kepada mendiang pemimpin Iran tersebut atas sifat-sifat khasnya.

Ia menyoroti komitmen tak tergoyahkan Ayatollah Khamenei terhadap prinsip-prinsip moral dan agama, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal yang ekstrem, termasuk sanksi ekonomi dan perang yang dipaksakan.

Murray mencatat bahwa meskipun Iran terus diancam oleh Amerika Serikat dan Israel—yang keduanya merupakan kekuatan nuklir—negara tersebut memilih untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, padahal mereka bisa saja melakukannya dengan mudah.

Ia menambahkan bahwa menahan diri ini berakar dari keyakinan sang pemimpin Iran bahwa langkah tersebut salah secara moral. Murray menyebut hal ini sebagai sebuah pembuktian luar biasa atas karakter sang Ayatollah.

Murray juga membandingkan perilaku Iran dalam perang dengan para musuhnya. Ia menunjukkan bahwa Iran tidak menargetkan sekolah, rumah sakit, ataupun jurnalis—berbeda dengan AS dan rezim Israel. Ia mengaitkan pembatasan diri ini dengan ajaran moral yang kuat dari Ayatollah Khamenei.

Mengenai gaung global dari sikap mendiang pemimpin Iran tersebut, Murray mengatakan bahwa Iran telah menjadi sangat penting bagi masyarakat di seluruh dunia sebagai pusat perlawanan yang efektif terhadap bangkitnya kembali imperialisme AS yang beroperasi melalui entitas pemukim kolonial Israel.

Hal ini mencakup penentangan terhadap ekspansi Israel dan genosida terhadap warga Palestina. Mantan duta besar Inggris tersebut menegaskan bahwa hanya Iran dan sekutunya, termasuk di Yaman dan Lebanon, yang telah berjuang dengan berani melawan imperialisme, yang benar-benar siap untuk berdiri melawan kekuatan-kekuatan tersebut—sebuah kebijakan teguh yang dijalankan di bawah kepemimpinan sang Ayatollah.

Menilai warisan paling berharga yang diperkuat oleh mendiang pemimpin tersebut, Murray menunjuk pada tumpahan emosi nasional selama agresi ilegal tanpa alasan oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta solidaritas luar biasa yang ditunjukkan oleh rakyat Iran.

Ia juga mengkritik pandangan keliru Barat tentang Iran. Ia mencatat keragaman budaya dan etnis di negara tersebut, serta keberadaan minoritas Yahudi dan Kristen yang hidup bebas—sebuah realitas yang kerap dikaburkan oleh media Barat.

Ketika ditanya apakah kepemimpinan Ayatollah Khamenei menginspirasi keterlibatan praktis dalam perlawanan terhadap kekuatan arogan, Murray membenarkan bahwa hal ini adalah bagian terpenting dari warisannya—bagi Iran dan para sekutunya yang juga telah gugur syahid oleh AS dan rezim Israel.

Ia menyatakan bahwa mendiang pemimpin Iran tersebut menanamkan pemahaman bahwa ada nilai-nilai yang lebih penting daripada materi, serta prinsip-prinsip yang layak untuk diperjuangkan hingga mengorbankan nyawa. Contoh keberaniannya dan penolakannya untuk tunduk di bawah serangan imperialis menjadi inspirasi di seluruh dunia, mengajarkan bahwa prinsip jauh lebih berharga daripada materialisme, kapitalisme, atau imperialisme.

Mengenai apakah pandangan politik Ayatollah Khamenei dapat memudar setelah pembunuhan dirinya, mantan diplomat tersebut menyatakan bahwa agresi AS dan Israel baru-baru ini menunjukkan bahwa Anda tidak dapat membunuh sebuah ide atau keyakinan agama.

Ia membantah anggapan bahwa pembunuhan membawa kemenangan jangka panjang, dengan mengacu pada Gaza, Lebanon selatan, dan Iran sendiri—yang semuanya tetap bertahan karena keyakinan dan kepercayaan akan kebenaran perjuangan mereka. Oleh karena itu, inspirasi pribadi dan contoh keyakinan agama yang besar tetap sangat penting secara global.

Merujuk pada hilangnya sang pemimpin bagi umat Islam dan dunia, Murray mengakui bahwa kepergian pemimpin spiritual yang hebat pasti akan dirasakan sangat mendalam. Namun, ia menekankan bahwa kehidupan seorang pemimpin besar ditentukan oleh bagaimana ia hidup dan warisan yang ditinggalkannya—sebuah warisan yang akan diteruskan oleh mereka yang siap mengikuti jejaknya.

Ia menegaskan bahwa syahidnya seseorang justru meningkatkan pengaruhnya di dunia ini sekaligus menandai awal dari kehidupan berikutnya, dan semangat inspirasi serta perlawanan itu tetap hidup dengan penuh semangat di Iran saat ini. [IT/G]
Comment