Khalil al-Hayya Terpilih sebagai Kepala Baru Biro Politik Hamas, Tunjukkan Ketahanan di Tengah Perang
Story Code : 1293664
Dalam pernyataannya, Hamas menyatakan bahwa al-Hayya telah mendapatkan kepercayaan dari anggota dan lembaga-lembaga gerakan, dan pemilihan ini menunjukkan bahwa Hamas terus beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip organisasi dan konsultasi (syura) bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun, di tengah perang genosida yang berkelanjutan dan pembunuhan terhadap para pemimpin dan kadernya. Gerakan ini memuji perlawanan dan kesabaran rakyat Gaza yang telah mengubah penderitaan mereka menjadi simbol perjuangan bagi para pejuang kebebasan di seluruh dunia, dan menekankan bahwa prioritas utama mereka adalah menghentikan serangan berkelanjutan terhadap rakyat Palestina, melindungi hak-hak mereka yang tidak dapat dicabut, dan meringankan penderitaan rakyat Gaza.
Hamas juga menekankan pentingnya mengakhiri blokade di Gaza, memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan medis, memulai proses rekonstruksi yang adil, dan menentang semua rencana untuk pengusiran paksa warga Palestina dengan dalih apa pun. Gerakan ini mengingat para pemimpin dan martir yang telah gugur dalam perjuangan, terutama para martir dalam Pertempuran Badai Al-Aqsa, termasuk Ismail Haniyeh, Saleh al-Arouri, Yahya Sinwar, dan Muhammad al-Deif, dan menegaskan komitmennya yang tak tergoyahkan untuk membebaskan para tahanan Palestina dan melanjutkan perlawanan sampai kemerdekaan dan hak kembali tercapai.
Pemilihan Khalil al-Hayya, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala biro politik Hamas dan salah satu negosiator utama dalam pembicaraan gencatan senjata, terjadi di tengah tekanan besar dari perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut. Kepemimpinan baru ini muncul pada saat yang kritis ketika Hamas menghadapi tantangan besar dalam hal rekonstruksi, bantuan kemanusiaan, dan masa depan politik Gaza pasca-konflik, dan dipandang sebagai upaya untuk mempertahankan kesinambungan organisasi dan persatuan di tengah perang yang sedang berlangsung melawan Israel.