0
Sunday 9 August 2026 - 08:23
Selat Hormuz

Araghchi: Iran dan Oman 'Sangat Dekat' Capai Kesepakatan Hormuz, Pembukaan Bergantung pada Kepatuhan AS terhadap MoU

Story Code : 1297975
Araghchi: Iran dan Oman




"Perundingan dengan Oman mengenai kerangka hukum dan pengelolaan Selat Hormuz, termasuk penetapan rute pelayaran melalui jalur tersebut, saat ini sedang berlangsung, dan kami sangat dekat untuk mencapai kesepakatan," kata Araghchi kepada wartawan pada Sabtu.

"Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada sejumlah kondisi lainnya, termasuk kompensasi atas pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman Islamabad oleh Amerika Serikat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa karena adanya kompleksitas teknis dan hukum, Teheran dan Muscat saat ini membahas rute navigasi sementara yang dapat menjadi dasar bagi pengaturan permanen.

Diplomat senior Iran tersebut menjelaskan bahwa pembicaraan antara pasukan militer dan angkatan laut kedua negara telah dilakukan berdasarkan peta maritim yang ada.

"Setelah pembicaraan ini selesai, rute baru akan ditentukan," kata Araghchi.

Ia kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar MoU Islamabad dan menekankan bahwa masalah tersebut harus diselesaikan sepenuhnya dalam setiap pengaturan di masa mendatang.

Menteri luar negeri Iran itu mengatakan bahwa Iran telah melaksanakan Pasal Lima Nota Kesepahaman Islamabad, yang menetapkan bahwa kondisi pelayaran diharapkan kembali normal dalam waktu satu bulan.

Ia mengatakan lalu lintas kapal melalui jalur perairan strategis tersebut telah mencapai 60 persen dari tingkat normal dalam waktu dua minggu setelah kesepakatan sementara.

Namun, ia menambahkan bahwa Washington telah berupaya membuka rute-rute baru di Selat Hormuz yang bertujuan melemahkan pengelolaan Iran atas jalur perairan tersebut, meskipun Teheran telah berulang kali memberikan peringatan.

"Oleh karena itu, pelanggaran terhadap nota kesepahaman dan campur tangan terhadap pengelolaan Iran atas Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh Republik Islam Iran," tegas menteri luar negeri tersebut.

Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada Juni untuk mengakhiri agresi Amerika-Israel terhadap Republik Islam yang dimulai pada 28 Februari.

Berdasarkan kesepahaman tersebut, Iran sepakat mengizinkan transit maritim tanpa biaya melalui Selat Hormuz selama 60 hari.

Sebagai bagian dari pelaksanaan MoU, Republik Islam menetapkan rute maritim khusus bagi kapal-kapal untuk melintasi jalur sempit tersebut, serta memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute ilegal.

Namun, Amerika Serikat berupaya melemahkan kedaulatan Iran dengan membuka koridor yang tidak aman di dekat pesisir Oman.

Tindakan ilegal AS tersebut mendorong Iran memberikan respons tegas dengan kembali memberlakukan pembatasan terhadap Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa setiap pergerakan melalui jalur strategis tersebut harus dilakukan berdasarkan pengaturan Iran, sesuai dengan kesepahaman yang telah dicapai.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, mengatakan pada Sabtu bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada penerimaan penuh Amerika Serikat terhadap syarat-syarat Iran dan penghentian campur tangan Washington dalam perundingan regional.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz tunduk pada mekanisme dan syarat-syarat khusus Republik Islam Iran dan tidak ada hubungannya dengan perundingan antara Iran dan Oman," tambahnya. [IT/G]
Comment