Emigrasi dari 'Israel' Memicu Kekhawatiran Demografis dan Ekonomi
Story Code : 1299102
US President Donald Trump and the Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu
Entitas pendudukan Zioinis Israel menghadapi masalah emigrasi yang kian membesar, dengan sekitar 150.000 warga Zionis Israel yang pergi dalam tiga tahun terakhir, menurut laporan *Financial Times* (FT).
Skala eksodus ini menjadi sangat signifikan karena entitas pendudukan tersebut mencatat migrasi neto negatif pada tahun 2023 dan 2024—sebuah fenomena yang hanya terjadi tiga kali dalam satu abad sebelumnya, menurut data yang dikutip oleh FT.
Para analis yang dikutip oleh surat kabar tersebut memperkirakan bahwa neraca migrasi neto untuk tahun 2025 juga akan tetap negatif.
Kepergian pekerja yang makmur dan berketerampilan tinggi menambah lapisan kekhawatiran baru; berbagai studi di Israel memperingatkan adanya potensi kerusakan pada sektor teknologi, pendapatan pajak, keuangan publik, dan sumber daya manusia militer entitas pendudukan tersebut.
Eksodus yang meningkat mengungkap krisis di entitas pendudukan
Gelombang emigrasi terbaru ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya krisis internal dan eksternal.
Surat kabar tersebut melaporkan bahwa 14.000 warga Zionis Israel pergi pada bulan Oktober 2023 saja, sementara sebuah studi dari Universitas Tel Aviv memperkirakan sebanyak 100.000 orang pergi selama tahun 2023 dan 2024. Studi tersebut memproyeksikan bahwa 45.000 hingga 50.000 orang lainnya pergi pada tahun 2025.
Sergio Della Pergola, profesor emeritus di Universitas Ibrani Yerusalem, menggambarkan kondisi migrasi negatif yang terjadi berturut-turut selama beberapa tahun ini sebagai sesuatu yang luar biasa (tidak lazim).
"Pada dasarnya, ini adalah kali pertama dalam 100 tahun terjadi neraca negatif yang berkelanjutan [selama tahun-tahun berturut-turut]," ujarnya kepada *Financial Times*. "Jadi, ini benar-benar luar biasa."
Perkembangan ini mengguncang model demografis di mana imigrasi secara historis menjadi faktor sentral bagi ekspansi ilegal entitas pendudukan tersebut.
Perang dan pemerintahan Netanyahu mendorong emigrasi
*Financial Times* mengutip penelitian demografis yang menunjukkan bahwa iklim politik telah menjadi alasan yang semakin penting bagi kepergian warga belakangan ini. Lilach Lev Ari, seorang sosiolog yang berspesialisasi dalam bidang imigrasi dan demografi di Oranim College, menyurvei 71 warga Zionis Israel yang beremigrasi ke Amerika Serikat selama tahun 2024 dan 2025.
"Kini kita jelas dapat memasukkan faktor suasana sosiopolitik di Zionis Israel ke dalam daftar alasan di balik gelombang emigrasi baru-baru ini," ujarnya kepada media tersebut.
Temuan ini muncul di tengah situasi di mana pemerintahan Benjamin Netanyahu terus menghadapi oposisi politik terkait kebijakan-kebijakannya, serta perang berkepanjangan yang telah memperdalam perpecahan di dalam masyarakat Zionis Israel.
*Financial Times* melaporkan bahwa sebagian masyarakat semakin khawatir akan meningkatnya pengaruh kelompok agama dan ultranasionalis, serta arah kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Netanyahu yang silih berganti.
Tekanan ekonomi juga turut mendorong kepergian warga. Tingginya biaya hidup dan harga perumahan membuat sebagian rumah tangga semakin kesulitan untuk tetap tinggal di entitas pendudukan tersebut.
*Financial Times* mengutip pernyataan seorang warga Israel yang pindah ke Amerika Serikat setelah menyimpulkan bahwa harga perumahan sudah tidak terjangkau. "Mencari hunian dengan harga wajar [di Israel] itu sulit. Bayangkan, harganya hampir mencapai satu juta dolar untuk apartemen seluas 100 meter persegi di Petah Tikva," ungkapnya kepada media tersebut.
Kepergian tenaga kerja berketerampilan tinggi mengancam fondasi ekonomi
Menurut *Financial Times*, sebuah studi terbaru dari otoritas pajak Israel menemukan bahwa tingkat kepergian warga Israel yang berkecukupan—termasuk pekerja di sektor teknologi tinggi dan layanan kesehatan—pada tahun 2023 dan 2024 hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun 2019.
Studi tersebut menemukan bahwa jika pola ini terus berlanjut, kerugian tahunan dalam penerimaan pajak bisa mencapai 3,5 miliar dolar AS dalam kurun waktu lima tahun.
Sebuah studi terpisah dari Universitas Tel Aviv menemukan adanya peningkatan arus keluar bersih warga Israel yang bekerja sebagai dokter dan insinyur, atau mereka yang memiliki kualifikasi di bidang teknologi tinggi, sains, teknik, dan matematika.
Masalah ini sangat krusial bagi perekonomian yang sangat bergantung pada sektor teknologi. *Financial Times* melaporkan bahwa sektor teknologi tinggi menyumbang sekitar seperlima dari total output ekonomi dan setengah dari nilai ekspor.
Itai Ater, seorang profesor ekonomi di Universitas Tel Aviv, memperingatkan media tersebut bahwa hilangnya modal manusia ini dapat berdampak semakin merusak. Ia mengatakan bahwa entitas pendudukan tersebut "bergantung pada modal manusianya. Kami tidak kaya akan sumber daya alam. Hal itulah yang membuat fenomena *brain drain* (larinya tenaga ahli) atau emigrasi menjadi lebih berbahaya atau berpotensi menimbulkan bahaya."
Eksodus menambah tekanan pada militer pendudukan
*Financial Times* mengutip Eran Yashiv, seorang profesor ekonomi di Universitas Tel Aviv, yang memperingatkan bahwa emigrasi yang terus berlanjut dari sektor-sektor produktif dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem pasukan cadangan, sekaligus menyulitkan upaya mempertahankan peningkatan belanja militer (IOF).
"Hal ini berarti masa tugas cadangan yang lebih lama bagi warga Yahudi non-Ultra-Ortodoks yang tetap tinggal di Israel, yang pada gilirannya merugikan aktivitas ekonomi mereka sendiri. Ini ibarat reaksi berantai yang dapat menimbulkan dampak lanjutan yang besar, karena beban militer dan ekonomi semakin banyak ditanggung oleh kelompok masyarakat yang lebih kecil," ujarnya.
Hal ini terjadi di tengah upaya berkelanjutan "Israel" melancarkan perang yang memakan biaya besar di Gaza dan Lebanon, sembari terus meningkatkan tekanan agresif terhadap negara-negara lain di Asia Barat. Oleh karena itu, potensi hilangnya tenaga kerja—yang berkontribusi baik bagi perekonomian maupun sebagai pasukan cadangan—menimbulkan masalah ganda bagi entitas pendudukan tersebut.
Otoritas berupaya membalikkan tren hilangnya populasi
Otoritas Israel telah memulai langkah-langkah untuk menarik kembali tenaga kerja berketerampilan tinggi, termasuk pemberian pembebasan pajak atas penghasilan yang diperoleh dan terakumulasi di luar entitas pendudukan, serta mekanisme yang memungkinkan pekerja yang kembali untuk mengkreditkan pajak yang telah dibayarkan di luar negeri terhadap kewajiban pajak penghasilan Zionis Israel.
Dror Bin, kepala eksekutif Otoritas Inovasi Zionis Israel, menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut dapat memberikan dampak pada tahun-tahun mendatang, meskipun masih terlalu dini untuk memastikan apakah kebijakan itu telah meningkatkan jumlah orang yang kembali.
Alex Weinreb, direktur penelitian di Taub Center, memperingatkan bahwa berkembangnya komunitas ekspatriat dapat mempermudah orang lain untuk mengikuti jejak mereka.
"Semakin banyak orang yang pergi, semakin terbentuk komunitas dan jaringan, dan semakin banyak orang merasa nyaman di tempat baru yang mereka tinggali," ujarnya. "Kemudian, muncul mekanisme sosial yang berperan memperkuat dan bahkan mempercepat tingkat migrasi keluar. Hal itulah yang membuat saya khawatir."
Financial Times melaporkan bahwa angka emigrasi pada paruh pertama tahun 2025 tercatat 20% lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Kendati demikian, arus keluar bersih (net outflow) penduduk diperkirakan masih akan terjadi sepanjang tahun tersebut.[IT/r]