Tentara Israel Melakukan Invasi Baru ke Suriah Meskipun Pertemuan Kepala Mossad dan Diplomat HTS
Story Code : 1301131
Diplomat of Syria’s ruling Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) Asaad al-Shaibani and the director of the Israeli Mossad, Roman Gofman
Saluran berita televisi Al-Ikhbariyah Syria melaporkan bahwa konvoi militer Israel memasuki desa Ma'ariya di pedesaan barat provinsi tersebut pada Senin pagi. Namun, tidak ada penculikan yang dilaporkan.
Pada hari Minggu, pasukan Zionis Israel melakukan invasi ke provinsi Quneitra di selatan Suriah dan menculik seorang warga sipil.
Media lokal mengatakan pasukan Zionis Israel maju ke barat kota al-Rafid dan menculik seorang penggembala.
Wilayah tersebut telah mengalami beberapa invasi Zionis Israel selama beberapa hari terakhir, dengan laporan yang menunjukkan kemajuan lain ke barat al-Rafid pada hari Jumat.
Invasi baru Zionis Israel ini terjadi ketika Menteri Luar Negeri dan Urusan Ekspatriat Suriah Asaad al-Shaibani dan direktur Mossad Roman Gofman mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Yordania pada hari Minggu (23/8).
Dua sumber yang mengetahui informasi tersebut mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka membahas isu-isu seperti pembentukan "ruang operasi khusus" di Yordania, di bawah pengawasan AS, untuk mencegah potensi konfrontasi di Suriah, termasuk yang mungkin melibatkan Turki.
Axios, mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa pertemuan itu bertujuan untuk "menurunkan ketegangan," menyusul meningkatnya retorika antara kedua belah pihak.
Pada 18 Agustus, pesawat tempur Zionis Israel melakukan delapan serangan udara di landasan pacu Pangkalan Udara Militer Abu al-Duhur di provinsi Idlib barat laut, merusak infrastrukturnya saat delegasi militer Turki mengunjungi lokasi tersebut.
Setelah runtuhnya pemerintahan mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada awal Desember 2024, militer Israel telah melakukan serangan udara yang menargetkan situs militer, instalasi, dan persediaan yang sebelumnya dikelola oleh tentara Suriah.
Israel telah menghadapi reaksi keras karena mengakhiri perjanjian gencatan senjata tahun 1974 dengan Suriah dan memanfaatkan kekacauan di negara yang dilanda perang tersebut untuk memperoleh tanah.
Sebagian besar serangan Zionis Israel difokuskan di provinsi-provinsi Suriah selatan, yaitu Quneitra, Dara'a, dan Damaskus, yang mewakili sekitar 80 persen dari semua serangan Israel yang didokumentasikan.[IT/r]