Peringatan massal untuk 10 Muharram, Hari Asyura, yang menandai kesyahidan cucu Nabi Muhammad, Imam Hussein bin Ali, diadakan pada hari Minggu di seluruh dunia.
Ritual tahunan ini, yang sangat melekat pada semangat perlawanan dan pengorbanan, memberikan penghormatan atas sikap tegas Imam Hussein dalam melawan tirani dalam Pertempuran Karbala lebih dari 1.300 tahun yang lalu.
Pemberontakan Imam Hussein, meskipun berakhir tragis dengan kesyahidannya, tetap menjadi simbol keadilan yang tak tergoyahkan dan perlawanan moral terhadap penindasan. Hari ini, di kota-kota dari Beirut hingga Kashmir, para pelayat mengenang perjuangannya melalui prosesi, ceramah keagamaan, dan tindakan simbolis berkabung, mencerminkan warisan spiritual dan politik yang mendalam dan terus menginspirasi generasi demi generasi.
Lebanon: Pawai Kesetiaan di Tengah Agresi “Israel” yang Terus Berlanjut
Di Lebanon, ribuan pelayat memadati Kompleks Sayyed al-Shuhada dan jalanan sekitarnya di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut. Pawai utama Asyura bergerak menuju wilayah Kafaat, tempat Sekjen Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyampaikan pidato yang menggema nilai-nilai Imam Hussein dan perkembangan terbaru di kawasan.
Asyura tahun ini diselimuti duka yang lebih dalam, karena menjadi peringatan pertama sejak kesyahidan Sekjen Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah, yang dibunuh oleh “Israel” dalam serangkaian serangan besar-besaran.
Selama beberapa dekade, umat di seluruh dunia menjadikan pidato Asyura Sayyed Nasrallah sebagai momen kejelasan spiritual dan ketegasan politik. Pidatonya bukan sekadar retorika, melainkan kompas kebenaran dan keteguhan, membimbing umat menghadapi ujian zaman. Kepergiannya menggema dalam kesadaran global.
Tahun ini, para pelayat tidak hanya menangisi pengorbanan abadi Imam Hussein di Karbala, tetapi juga mengenang suara perlawanan masa kini; seorang pemimpin yang hidup dan syahidnya mencerminkan keberanian Imam Hussein melawan kezaliman. Namanya terus dikenang dalam setiap air mata, setiap pukulan dada, dan setiap seruan: “Labayka ya Nasrallah!” — sebuah ikrar bahwa pesan beliau takkan mati.
انطلاق مراسم إحياء اليوم العاشر من محرّم في المجلس المركزي الذي يقيمه #حزب_الله في مجمّع سيّد الشهداء في الضاحية الجنوبية لبيروت.
مراسل #الميادين عباس الصباغ ينقل المشهد من هناك��#لبنان#الميادين_لبنان@abbas_sabbaghpic.twitter.com/0n5t9wAZxL
— الميادين لبنان (@mayadeenlebanon) July 6, 2025
Selama puluhan tahun, orang-orang di seluruh dunia telah menjadikan pidato Asyura Sayyid Nasrallah sebagai momen kejernihan spiritual dan tekad politik. Pidato-pidatonya bukan sekadar peristiwa retorika; pidato-pidatonya adalah kompas kebenaran, perlawanan, dan keteguhan, yang membimbing umat beriman melalui berbagai cobaan di zaman mereka. Ketidakhadirannya bergema sangat dalam di seluruh kesadaran global.
Massive crowds join the Ashura procession in Beirut’s southern suburb.
Pada Hari Asyura kali ini, para pelayat tidak hanya berduka atas pengorbanan Imam Hussein yang tak lekang oleh waktu di Karbala, tetapi juga atas suara perlawanan kontemporer; seorang pemimpin yang kehidupan dan kesyahidannya menggemakan perlawanan Imam Hussein dalam menghadapi tirani. Kenangannya tetap hidup dalam setiap air mata, setiap detak dada, dan setiap seruan "Labayka ya Nasrallah!"; sebuah sumpah bahwa pesannya akan bertahan setelah kematian.
Peringatan paralel juga digelar di wilayah selatan dan Lembah Bekaa, termasuk kota-kota perbatasan seperti Kfar Kila, tempat prosesi berjalan melewati bangunan-bangunan yang masih memperlihatkan bekas serangan pendudukan Israel baru-baru ini. Perpaduan antara duka untuk Karbala dan keteguhan melawan pendudukan menciptakan atmosfer perlawanan dan kenangan yang mendalam di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi.
Irak: Karbala dan Najaf Menyambut Jutaan Peziarah
Di Irak, pusat spiritual peringatan Asyura, kerumunan besar memadati kota suci Karbala dan Najaf. Menurut Kementerian Dalam Negeri Irak, lebih dari 1,17 juta peziarah telah memasuki tempat suci sejak awal Muharram. Sebanyak 833 prosesi duka resmi terdaftar di Karbala, termasuk delegasi dari 10 negara asing, mencerminkan gema global pengorbanan Imam Hussein.
Tim pertahanan sipil dikerahkan di seluruh kota tua yang bersejarah, memastikan keselamatan di tengah kerumunan besar yang meneriakkan seruan abadi: “Labayka ya Hussein!” — “Aku datang, wahai Hussein.”
Iran: Dari Duka ke Perlawanan Pasca Agresi
Di Iran, kota-kota dan desa-desa di seluruh negeri menyaksikan peringatan Asyura yang masif, yang tahun ini diliputi nuansa perlawanan lebih kuat menyusul agresi terbaru oleh Israel.
Pada hari Asyura, semua kelompok pelayat di Bandar Abbas berbaris di jalan-jalan kota, membawa bendera, nyanyian mereka diiringi oleh ketukan simbal dan drum yang berirama. Mereka kemudian berkumpul di satu lokasi untuk melakukan salat Asyura siang bersama.. pic.twitter.com/79qYqdjux3
— IRNA News Agency (@IrnaEnglish) July 6, 2025
Reporter Al Mayadeen mencatat bahwa prosesi, yang biasanya ditandai dengan bendera hitam duka, kini juga menampilkan bendera nasional Iran, menandakan persatuan nasional di bawah panji Imam Hussein.
Slogan Asyura tahun ini adalah: “Iran Hussein, Menang Selamanya”, mencerminkan keyakinan bahwa jalan keadilan Imam Hussein pada akhirnya membawa kemenangan, meski harus dibayar dengan kesyahidan.
Pakistan dan Kashmir: Perlawanan Mengapung dan Pengabdian Membumi
Di Pakistan, puluhan ribu orang mengikuti prosesi di Taman Nishter, Karachi, dengan pengamanan ketat di seluruh negeri.
Warga Kashmir menghadiri upacara berkabung pada malam Asyura untuk mengenang Imam Hussein dan para sahabatnya, yang secara tragis menjadi martir dalam Pertempuran Karbala.
Sementara itu, di Kashmir yang dikuasai India, di tengah represi politik yang tinggi, para pelayat memperingati 9 Muharram dengan prosesi mengapung di atas perahu kayu di Danau Dal, sebuah bentuk pengabdian puitis yang menyusuri perairan yang lama diasosiasikan dengan perlawanan budaya.
Seluruh Dunia: Dari London hingga Johannesburg
Di seluruh Eropa, AS, Australia, dan Afrika, komunitas Muslim juga memperingati Asyura dengan prosesi khidmat, majelis duka, dan tindakan simbolis berkabung.
Dari London hingga Dearborn, dari Sydney hingga Johannesburg, para pelayat berkumpul di masjid dan pusat komunitas, membacakan elegi dan memperagakan kembali tragedi Karbala.
Meski jauh dari makam suci di Najaf dan Karbala, semangat pengorbanan Imam Hussein terasa mendalam, melintasi batas negara dan menyatukan umat dalam duka dan tekad untuk menegakkan keadilan.
Indonesia: Terikan ‘Labaik Ya Husein’ dari Timur
Ribuan pecinta Imam Husein di berbagai kota Indonesia memperingati kesyahidan Imam Husein ibn Ali as, cucu Rasulullah dalam tragedi Karbala.
Pecinta Imam Husein as itu menangisi gugurnya Imam Ke ttiga Syiah yang madhlum dibunuh di petang 10 Muharram di Padang Karbala dibunuh secara dhalim oleh Syimr atas Perintah Yazid ibn Muawiyah.
Hari inilah hari diperingatinya kemenangan darah melawan pedang, yang terus menghidupkan semangat juang para penerus perjuangan kebenaran ajaran Rasulullah Muhammad dan Aali Muhammad.
Duka di Asyura adalah janji kelanjutan perjuangan al Husein di seluruh dunia.
Peringatan Asyura ini menegaskan ketangguhan komunitas-komunitas tertindas di seluruh dunia, menghidupkan kembali kenangan Imam Hussein sebagai mercusuar perlawanan moral terhadap penindasan dalam segala bentuknya.[IT/r]